Repelita [Jakarta] - Langkah Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad dalam menangani gelombang unjuk rasa massa Pati dan dorongan pengesahan RUU Perampasan Aset memicu perhatian tajam dari pengamat publik.
Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Ahmad Tsauri menilai manuver politisi Partai Gerindra tersebut menjadi indikasi munculnya kegelisahan politis di tengah menurunnya tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja rezim.
ADVERTISEMENT
Ia menyoroti penerbitan surat pernyataan parlemen serta narasi persatuan yang diunggah Dasco yang dinilai berseberangan dengan realitas penanganan unjuk rasa di lapangan.
"Manuver Dasco ini sudah dapat kita baca sejak awal, sebelum demonstran Pati sampai ke DPR RI. Unggahan kata-kata mutiara itu hanya bualan penuh rekayasa, kepanikan, dan manipulasi," ujar Ahmad Tsauri dikutip dari akun media sosialnya, Minggu (30/8/2026).
Ahmad Tsauri mengecam keras aksi perintangan terhadap alur gerakan massa, mulai dari pembekuan rekening aktivis, tekanan terhadap penyedia angkutan bus, hingga aksi pelemparan batu di jalur tol.
Ia menduga terdapat pemegang komando berpengaruh yang mengendalikan pergerakan di lapangan serta tindakan tegas dari institusi kepolisian.
"Semua rentetan peristiwa sejak pemblokiran rekening aktivis Pati, siapa di belakang perintah polisi? Pasti orang kuat, dia adalah 'Perdana Menteri' yang menyamar sebagai Wakil Ketua DPR RI," tegas alumni UIN Sunan Kalijaga tersebut.
Kegagalan skema pembekuan rekening justru memicu gelombang dukungan luas dari publik nasional, sehingga mendorong DPR merespons cepat kesepakatan dengan wakil unjuk rasa guna membubarkan kerumunan sebelum gelombang massa tambahan memasuki wilayah ibu kota.
Ahmad Tsauri menyebut bahwa kesiapan jajaran parlemen mengambil langkah kilat didorong oleh kekhawatiran meluasnya rasa tidak puas warga terhadap capaian pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Sejumlah indikator mulai dari penyusunan RAPBN, efektivitas realisasi program prioritas, pengetatan sektor perpajakan, hingga penurunan daya beli kelompok masyarakat kelas menengah dianggap menjadi akar kegelisahan publik.
"Kalau Gerindra tidak bergerak cepat, rakyat tanpa dikoordinasi akan bergabung dan membuat demo besar di seluruh tanah air yang tidak akan terbendung," ungkapnya.
Di samping itu, ia turut mengulas dugaan pemanfaatan Ormas GRIB Jaya pimpinan Hercules dalam mengawal aksi unjuk rasa di area terbuka yang dinilainya berakhir fatal hingga merenggung nyawa warga.
"Selain Hercules dan Grib Jaya, Prabowo dan Dasco harus bertanggung jawab atas meninggalnya almarhum, karena mereka semua ada di balik opsi skenario itu. Apesnya, skenario terakhir memakan korban," tutur Tsauri.
Pasca-kejadian tersebut, parlemen dan pemerintah diprediksi bakal mengoptimalkan pemberian santunan serta membangun narasi empati kepada keluarga korban demi meredam gejolak amarah masyarakat.
Sementara itu, Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia Muhammad Isnur menilai terdapat kesamaan pola dalam penanganan gejolak aksi unjuk rasa pada Agustus 2026 dengan temuan Komisi Pencari Fakta pada peristiwa serupa setahun sebelumnya, serta mendesak penegakan hukum secara tuntas.
Aparat kepolisian saat ini masih memproses penyelidikan terkait tewasnya Bambang Setiyawan (59), warga yang diduga menjadi korban pengeroyokan di Pejompongan, Jakarta Pusat, pasca-kerusuhan unjuk rasa di Gedung DPR/MPR RI.
Pihak kepolisian juga mengamankan 322 orang dengan 48 di antaranya telah ditetapkan sebagai tersangka atas tindakan perusakan sarana publik serta aksi kekerasan di sejumlah titik.
Dalam rangkaian insiden tersebut, seorang warga bernama Faturohman (18) melapor menjadi korban penganiayaan fisik saat kerusuhan berlangsung dan keterangannya masih didalami oleh penyidik.
Mengenai beredarnya rekaman video kehadiran Ketua DPP GRIB Jaya Rosario de Marshall alias Hercules di lokasi unjuk rasa, tim kuasa hukum membenarkan keberadaan kliennya namun membantah keterlibatan organisasi dalam bentrokan fisik.
Meski begitu, pernyataan tersebut menuai sorotan lantaran berbedanya keterangan dari tim hukum yang sebelumnya sempat mengklaim bahwa Hercules tidak mendatangi lokasi unjuk rasa pada hari kejadian.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok