Repelita [Jakarta] - Pengamat politik dari Universitas Sebelas Maret, Agus Riewanto, memaparkan dua kendala besar yang membayangi jalan Partai Solidaritas Indonesia menuju kursi parlemen pada Pemilu 2029.
Menurutnya, bergabungnya mantan Presiden Jokowi ke dalam partai tersebut belum menjadi jaminan mutlak bagi PSI untuk menembus ambang batas parlemen.
ADVERTISEMENT
Agus menanggapi klaim kenaikan jumlah kader di sejumlah daerah setelah dilakukannya rangkaian safari politik oleh Jokowi beberapa waktu lalu.
Meskipun pengaruh figur tersebut memberikan dampak elektoral, ia menegaskan bahwa popularitas saja tidak cukup untuk mengamankan perolehan kursi di Senayan.
Pertambahan kader baru dan kehadiran figur Jokowi di PSI tidak serta-merta menjamin lolos ke Senayan, ungkap Agus, Jumat (17/7/2026).
Tantangan utama yang dihadapi partai tersebut adalah aturan ambang batas parlemen sebesar empat persen yang harus dilampaui dalam pemilihan nasional.
Selain itu, partai ini disebut masih memiliki kelemahan mendasar terkait dengan belum terbentuknya infrastruktur organisasi yang kuat hingga ke level desa.
Hambatan utama tetap sama: parliamentary threshold 4 persen dan minimnya infrastruktur politik PSI di desa, lanjutnya.
Agus menjelaskan bahwa keberhasilan sebuah partai politik menembus Senayan sangat bergantung pada mesin organisasi, jaringan, serta logistik yang mapan.
Ia membandingkan PSI dengan partai besar lain yang memerlukan waktu hingga belasan tahun untuk bisa mengakar kuat di akar rumput.
Partai butuh mesin, logistik, dan waktu 10-15 tahun untuk mengakar seperti PDIP atau Golkar.
Efek Jokowi bersifat elektoral jangka pendek, bukan struktural.
Tanpa transformasi jadi partai ideologis, PSI rawan jadi partai selebritas, tegasnya.
Simpulan tersebut didasarkan pada pandangan bahwa ketergantungan pada sosok populer tidak akan memberikan dampak jangka panjang bagi ketahanan sebuah partai.
PSI dinilai harus segera melakukan perombakan organisasi secara serius dan konsisten dalam melakukan kaderisasi agar bisa bersaing secara kompetitif ke depannya (*).
Editor: 91224 R-ID Elok