Repelita Jakarta - Suasana ruang diskusi berubah drastis ketika satu pertanyaan sederhana terus berulang tanpa jawaban tuntas: dari mana asal potongan video yang menyeret nama Jusuf Kalla ke pusaran polemik?
Ade Armando menjadi pusat sorotan setelah didesak dari berbagai arah, mulai dari Said Didu hingga kuasa hukum Jusuf Kalla, Abdul Haji Talaohu, dengan inti desakan bahwa tanpa menyebut sumber, siapa pun yang menyebarkan narasi dianggap bertanggung jawab penuh atas dampaknya.
ADVERTISEMENT
Said Didu mengunci argumennya pada prinsip dasar dalam logika ilmiah dan komunikasi publik, bahwa pernyataan tanpa sumber berarti klaim itu melekat pada si penyampai.
"Kalau tidak disebutkan sumbernya, maka itu dianggap sebagai pernyataannya sendiri," demikian garis tegas yang ia tarik di forum diskusi tersebut.
Ade Armando mengaku memiliki sumber, bahkan menyebut berasal dari akun lain di media sosial, namun ia memilih untuk tidak membuka identitasnya di ruang publik dengan alasan defensif menghindari serangan terhadap pihak yang ingin dilindungi.
Ia hanya bersedia mengungkapkan sumbernya jika diminta oleh aparat penegak hukum, sebuah sikap yang justru mempersempit ruang geraknya di tengah desakan yang datang berlapis.
Abdul Haji Talaohu menilai tanpa transparansi sumber, publik berasumsi bahwa Ade adalah pihak awal atau setidaknya bagian dari rantai penyebaran yang memicu kegaduhan.
Dalam nada yang lebih keras, kuasa hukum Jusuf Kalla itu bahkan menyebut narasi yang dibangun Ade berpotensi menghasut dan membentuk opini keliru terhadap JK.
Ferdinand Hutahaean secara terbuka menyatakan bahwa ia sempat terpengaruh oleh video yang beredar, termasuk salah satunya yang dikomentari oleh Ade Armando.
Dari pengakuan itu, efek domino terlihat jelas: potongan video, opini publik, hingga langkah somasi saling terkait dalam satu kesatuan polemik.
Moderator Aiman Wicaksono kemudian mendorong diskusi ke titik paling krusial, yaitu akuntabilitas dalam praktik jurnalistik di mana sumber adalah fondasi utama.
Tanpa sumber yang jelas, informasi menjadi rapuh, mudah dipelintir, dan berisiko menimbulkan bahaya publik yang meluas.
Pada akhirnya, Ade Armando mengakui satu hal penting: ia tidak menyebutkan sumbernya dalam diskusi tersebut.
Sebuah pengakuan yang sederhana namun berdampak besar dalam konteks polemik yang sudah meluas ke berbagai lapisan masyarakat.
Forum pun ditutup tanpa jawaban pasti soal siapa pemotong pertama video tersebut, namun satu kesimpulan mengendap di benak publik.
Di era digital, satu potongan informasi tanpa asal-usul yang jelas bisa menjelma menjadi badai, dan siapa pun yang meniupnya, sadar atau tidak, harus siap menghadapi arah angin yang berbalik.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok