Repelita Jakarta - Tewasnya Pemimpin Tertinggi Republik Islam Ayatollah Ali Khamenei nyatanya tidak membuat Iran tunduk terhadap Amerika, yang terjadi justru sebaliknya yaitu Iran semakin mengerikan dalam melakukan perlawanan.
Pembalasan yang dilakukan Iran terhadap Amerika Serikat dan Israel tampak tanpa ampun dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan mereda dalam waktu dekat.
Hal ini membuktikan bahwa gugurnya Khamenei tidak serta merta membuat Washington bisa mengendalikan Teheran sesuai dengan keinginan mereka.
Kenyataan yang ada justru sebaliknya, tanpa banyak basa basi Korps Garda Revolusi Islam langsung melancarkan aksi balasan ke area strategis Israel dan sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat.
Bahkan The Wall Street Journal menyebut bahwa Presiden Donald Trump kini menghadapi serangkaian tantangan berat akibat keputusannya melancarkan operasi militer ke Iran.
Hal itu saling terkait di empat bidang utama yang menjadi penopang kekuasaan Amerika, yakni geopolitik, diplomatik, ekonomi, dan politik dalam negeri.
Jika Trump gagal mengendalikan empat poin krusial ini, maka segala kemenangan taktis Amerika Serikat justru akan berubah menjadi kekalahan strategis yang berujung pada ancaman keamanan dunia dan warganya sendiri.
Dilansir dari kanal YouTube Kompas, Amerika Serikat menghadapi sejumlah risiko besar usai melancarkan operasi bersandi Epic Fury ke wilayah kedaulatan Iran.
Dua tantangan pertama yang menghimpit Trump berasal dari segi geopolitik dan diplomatik yang saling terkait erat satu sama lain.
Secara geopolitik, tewasnya Ayatollah Ali Khamenei bukan hanya berpengaruh pada Iran tetapi juga memicu ketakutan akan konflik regional baru di seluruh kawasan Timur Tengah.
Wall Street Journal menyebut bahwa negara-negara Arab di kawasan teluk merasa cemas karena kekacauan akan merembet ke perbatasan mereka dalam waktu singkat.
Terlebih infrastruktur minyak mereka hanya berjarak beberapa kilometer dari wilayah operasi militer Teheran yang kini memanas.
Tak hanya itu, pemaksaan perubahan rezim oleh Washington juga dinilai sebagai perjudian besar yang bisa menyeret Rusia dan China ke dalam pusaran konflik yang lebih luas.
Sementara dari segi diplomatik, Donald Trump harus segera mencari sosok internal Iran yang bisa diajak bekerja sama layaknya Delcy Rodriguez di Venezuela.
Namun masalahnya hingga kini Amerika Serikat belum menemukan sosok Delcy versi Iran yang bisa dikendalikan oleh Washington untuk menjadi mitra negosiasi.
Malah yang terjadi justru sebaliknya, pejabat senior Iran Ali Ardashir Larijani secara tegas menyatakan bahwa pintu negosiasi untuk Amerika telah tertutup rapat dan tidak akan dibuka lagi.
Iran juga telah mempersiapkan diri untuk perang jangka panjang lewat pengerahan pasukan, menyebar wewenang pengambilan keputusan dan memperkuat lokasi-lokasi penting di seluruh negeri.
Analis dan Penasihat Senior Presiden di International Crisis Group, Ali Vaez menyebut bahwa anggapan pengeboman Amerika dan Israel akan memicu pemberontakan rakyat di Iran adalah angan-angan belaka.
Kondisi ini membuat strategi Amerika Serikat terancam sia-sia karena serangan eksternal justru seringkali menjadi perekat nasionalisme yang memperkuat posisi garis keras di Teheran.
Tantangan ketiga yang mencekik Pentagon berasal dari segi ekonomi global terutama terkait pasokan energi dunia yang menjadi denyut nadi perekonomian internasional.
Keputusan Trump untuk meruntuhkan rezim Khamenei telah mengguncang pasar minyak dan mengirimkan gelombang kejut pada perekonomian internasional yang masih dalam masa pemulihan.
Situasi ini semakin tidak menentu setelah Teheran benar-benar melaksanakan ancamannya untuk menutup Selat Hormuz per 1 Maret 2026 kemarin.
Korps Garda Revolusi Islam Iran telah memberikan peringatan keras kepada seluruh kapal tanker bahwa sangat tidak aman untuk melewati selat tersebut saat ini.
Nah celakanya hampir seperlima dari minyak bumi yang dikonsumsi dunia setiap hari mengalir lewat selat sempit yang menjadi jalur vital tersebut.
Maka penutupan Selat Hormuz sama saja dengan skenario kiamat bagi ekonomi global yang masih bergantung pada pasokan energi dari kawasan Teluk.
Direktur Pusat Studi Geoekonomi Edward Fishman menilai implikasi dari perang ini bisa sangat luas, karena minyak adalah bahan baku bagi sebagian besar ekonomi global.
Harga minyak dunia bahkan diprediksi bisa melambung hingga 140 dolar per barel jika gangguan pasokan terjadi dalam jangka panjang dan berkepanjangan.
Bagi Trump ini adalah risiko politik yang sangat besar karena akan berdampak langsung pada popularitasnya di dalam negeri.
Jika konflik ini menyebabkan harga bensin naik tajam di Amerika Serikat, hal itu akan sangat berbahaya bagi popularitasnya menjelang pemilihan paruh waktu musim gugur mendatang.
Tantangan terakhir dan paling menentukan adalah tekanan dari dalam negeri Amerika Serikat yang mulai menunjukkan gelombang penolakan.
Donald Trump memang boleh terlihat dominan di panggung dunia, tapi publik domestik justru menunjukkan reaksi yang skeptis terhadap kebijakan perangnya.
Jajak pendapat survei terbaru Ipsos mengungkap tingkat persetujuan yang sangat rendah terhadap serangan ini di kalangan warga Amerika.
Hanya satu dari empat warga Amerika atau sekitar 25 persen yang menyetujui operasi militer terhadap Iran yang dilancarkan pemerintahannya.
Kebanyakan pemilih Amerika sudah lelah dengan triliunan dolar yang dihabiskan untuk konflik di Timur Tengah selama beberapa dekade terakhir.
Terlebih Trump sebelumnya berkampanye dengan janji untuk mengakhiri perang tanpa akhir dan memfokuskan sumber daya pada masalah domestik yang mendesak.
Situasi semakin mendidih usai Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM mengonfirmasi tiga anggota militernya tewas dalam serangan balasan Iran di Kuwait.
Kematian tentara ini mengubah perspektif publik secara drastis terhadap kebijakan perang yang diambil oleh pemerintahan Trump.
Trump kini harus berhadapan dengan kritik tajam dari kongres terkait legalitas perang yang tidak melibatkan otorisasi legislatif sesuai konstitusi.
Senator Chris Van Hollen secara terang-terangan menyindir janji kampanye sang presiden yang selama ini digaungkan kepada publik.
Ia menyebut bahwa Trump sebelumnya mengatakan akan menjaga kita agar tidak terlibat perang baru di Timur Tengah.
Trump sendiri telah mengakui bahwa korban jiwa bisa terus bertambah seiring eskalasi konflik yang semakin meluas.
Namun ia tetap bersikeras bahwa pada akhirnya ini akan menjadi hal yang baik bagi dunia meskipun banyak pihak meragukan klaim tersebut.
Empat poin simalakama ini menempatkan Amerika Serikat pada jalur yang sangat berbahaya dan tidak pasti di kawasan Timur Tengah.
Tewasnya Ayatollah Khamenei memang menjadi momen kemenangan yang dramatis bagi intelijen Amerika dan Israel.
Namun Iran telah membuktikan bahwa mereka sangat sulit untuk dikontrol dan lebih memilih untuk melawan habis-habisan sampai titik darah penghabisan.
Ditutupnya Selat Hormuz membuat krisis energi dan inflasi global kini sudah di depan mata dan akan segera dirasakan seluruh dunia.
Sementara di dalam negeri, Trump harus berhadapan dengan warganya sendiri yang mulai menolak tumbal nyawa prajurit demi ambisi geopolitik di Timur Tengah.
Iran mengklaim telah melancarkan serangan lanjutan tepat mengenai kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan markas komandan angkatan udara zionis.
Hal itu disampaikan oleh Juru Bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran, Ebrahim Zolfaghari melalui pernyataan resmi hari ini mengenai operasi militer terbaru terhadap pendudukan Israel.
Dalam konferensi pers yang disiarkan televisi, Zolfaghari mengatakan bahwa angkatan bersenjata Republik Islam telah melancarkan serangan rudal Khyber gelombang ke-10.
Sasarannya adalah kantor perdana menteri rezim zionis Israel dan markas komandan angkatan udara mereka yang menjadi pusat komando militer.
Ia menekankan bahwa serangan itu direncanakan dengan matang, berlangsung mengejutkan, dan berhasil melancarkan pukulan yang signifikan terhadap musuh.
"Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Siapapun yang menyerang kalian, maka balaslah setimpal dengan serangannya," kata Zolfaghari mengawali pernyataannya dikutip pada Selasa, 3 Maret 2026.
Ia mengatakan bahwa kantor perdana menteri rezim zionis Netanyahu yang kriminal dan markas komandan angkatan udara militer mereka telah menjadi target serangan utama Iran.
"Serangan menggunakan rudal Khyber gelombang ke-10 yang terencana dan mengejutkan," tuturnya menjelaskan detail operasi militer tersebut.
Menurut dia, angkatan bersenjata Republik Islam Iran telah berhasil memberikan pukulan telak yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
"Hingga saat ini nasib perdana menteri rezim zionis tersebut masih belum jelas dan diliputi ketidakpastian," ungkapnya dalam pernyataan resmi.
"Keberhasilan serangan rudal gelombang 10 di wilayah pendudukan ini memang difokuskan langsung ke pusat pemerintahan rezim zionis," tuturnya menambahkan.
"Sampai detik ini, unit pertahanan udara kami juga telah berhasil menembak jatuh 3 jet tempur Amerika Serikat yang mencoba menyerang," sambungnya memberikan informasi terbaru.
"Hasil dari operasi penyerangan pertahanan serta informasi tambahan lainnya akan segera kami umumkan dalam waktu dekat. Kemenangan hanyalah dari Allah," imbuh dia mengakhiri pernyataannya.
Sementara itu dikutip dari media sosial resmi @techtimesofficial, laporan yang belum terkonfirmasi saat ini beredar mengenai kemungkinan kematian Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Itu terjadi usai serangan militer besar yang dikaitkan dengan pasukan IRGC yang menargetkan pusat pemerintahan Israel.
Berita ini telah memicu keadaan siaga tinggi di seluruh Israel dan komunitas internasional yang lebih luas, karena para pejabat berupaya memverifikasi status perdana menteri.
Serangan yang dilaporkan terjadi di tengah periode eskalasi regional yang belum pernah terjadi sebelumnya usai serangan terhadap Teheran yang secara signifikan berdampak pada kepemimpinan Iran.
Jika dikonfirmasi, kehilangan kepala negara Israel akan mewakili pergeseran besar dalam lanskap geopolitik dan dapat menyebabkan transformasi total konflik saat ini.
Sumber keamanan di Yerusalem belum mengeluarkan pernyataan resmi, tetapi berbagai media lokal melaporkan pertemuan darurat Kabinet Israel dan para petinggi militer.
Ketidakpastian seputar laporan ini telah menyebabkan spekulasi yang luas dan rasa krisis yang mendalam di dalam pemerintahan Israel.
Para pemimpin internasional menyerukan kejelasan dan pengekangan segera sambil memantau situasi untuk setiap tanda-tanda gerakan pembalasan lebih lanjut.
Kurangnya informasi yang terverifikasi telah menyebabkan volatilitas yang signifikan di pasar global dan telah menempatkan saluran diplomatik pada posisi yang sangat rentan.
Sembari dunia menunggu konfirmasi atau penolakan resmi, implikasinya terhadap stabilitas Timur Tengah sangat besar dan berpotensi menimbulkan bencana kemanusiaan.
Perkembangan berita ini menandai titik kritis dalam konflik yang telah mengubah keamanan regional dan hubungan internasional hanya dalam hitungan hari.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

