
Repelita Jakarta - Di negeri yang mataharinya terbit dari timur dan isu global muncul dari segala penjuru Presiden Prabowo Subianto tampak selalu mengaktifkan radar perang yang tak pernah redup.
Latar belakangnya sebagai mantan panglima lapangan eks Menteri Pertahanan dan pemimpin lama Kopassus membuatnya sangat peka terhadap aroma konflik yang samar-samar terbawa angin geopolitik.
Sejak awal menjabat ia seperti penjaga dunia yang tak digaji PBB karena sudah sejak April 2025 bahkan sebelum serangan Amerika Serikat ke fasilitas uranium Iran ia telah memperingatkan kemungkinan meletusnya Perang Dunia III.
Pada Februari 2026 di Sentul ia kembali mengulang peringatan tegas tentang nuclear winter partikel radioaktif yang melintasi batas negara ikan-ikan terkontaminasi serta matahari yang meredup selama puluhan tahun sehingga dunia seperti kulkas raksasa tanpa listrik.
Filosofi luar negerinya terdengar puitis namun sangat realistis yakni seribu kawan terlalu sedikit sementara satu lawan terlalu banyak yang seperti nasihat orang tua agar anaknya tidak mencari musuh tetapi juga tidak terlalu polos percaya semua orang.
Namun di tengah narasi bebas aktif dan nonblok publik membaca gerak lain yang memunculkan polemik seperti kedekatan dengan Amerika Serikat serta Israel keikutsertaan dalam Board of Peace dan penandatanganan perjanjian dagang resiprokal yang dinilai menguntungkan pihak mitra.
Saat Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei wafat akibat serangan militer Prabowo memilih diam tanpa ucapan belasungkawa terbuka padahal dalam tradisi diplomasi gestur kemanusiaan sering dipisahkan dari sikap politik.
Pertanyaan publik muncul mengapa sikap terhadap Washington dan Tel Aviv terasa lebih hangat sementara terhadap Teheran sebagai negeri Muslim justru terasa lebih dingin.
Prabowo berkali-kali menegaskan bahwa jika memilih nonblok jangan harap ada yang menolong saat ancaman datang sehingga logikanya dunia nyata adalah arena kekuatan bukan seminar etika.
Para pendiri bangsa pun memahami bahwa dunia terkotak-kotak sejak era blok komunis dan kapitalis sehingga Indonesia belajar berdiri di antara gajah-gajah raksasa yang bila bertarung rumputlah yang remuk.
Namun sejarah menunjukkan tidak ada kekuatan yang abadi karena gajah pun bisa terpeleset seperti Rusia yang pernah pecah dan Amerika Serikat yang lama dianggap polisi dunia kini menghadapi tekanan berat dalam eskalasi dengan Iran.
Israel yang selama ini diyakini superior teknologi militernya pun dalam beberapa eskalasi terakhir kewalahan menghadapi serangan balasan signifikan dan terukur dari Iran sehingga kekuatan militernya dilucuti tanpa ampun.
Marsekal Agung Sasongkojati alumni US Air War College dan penerbang pertama F-16 Indonesia menilai dominasi eskalasi yang menjadi keunggulan Amerika Serikat serta Israel tidak lagi sepenuhnya utuh.
Serangan balasan Iran dengan kombinasi drone dan rudal jarak jauh berkecepatan tinggi memaksa Washington dan Tel Aviv masuk pola perang atrisi yang menguras sumber daya serta logistik.
Di Israel pangkalan udara strategis seperti Nevatim dan Tel Nof dilaporkan mengalami kerusakan signifikan pada infrastruktur landasan pacu serta fasilitas pendukung sehingga operasional pesawat tempur generasi lanjut termasuk F-35 dan F-15 menghadapi keterbatasan serius.
Superioritas udara tidak berarti banyak ketika runway retak dan depot bahan bakar terbakar sehingga pesawat secanggih apa pun menjadi kurang efektif jika basis operasionalnya terganggu.
Sistem pertahanan berlapis Israel dari Iron Dome David’s Sling hingga Arrow menghadapi tekanan berat akibat taktik saturasi dengan gelombang drone murah dipadukan rudal presisi yang membuat radar dan baterai pertahanan kewalahan.
Di kawasan Teluk semua pangkalan utama Amerika Serikat dilaporkan rata dengan tanah disertai gangguan pada sistem radar serta identifikasi kawan-lawan sehingga terjadi insiden jatuhnya beberapa pesawat F-15 akibat tembakan pertahanan sendiri.
Dari sisi logistik konsumsi amunisi presisi jarak jauh dalam jumlah besar menciptakan tekanan pada stok strategis Amerika Serikat sehingga perang berkepanjangan berisiko membuka celah kesiapan di kawasan lain.
Di laut gugus tugas kapal induk Amerika Serikat berada dalam posisi semakin rumit karena serangan rudal jarak jauh dan drone Iran membatasi manuver di sekitar Selat Hormuz.
Kesimpulan Marsek Agung adalah konflik ini mengikis aura tak tersentuh kekuatan Barat di kawasan karena kerusakan pangkalan tekanan sistem pertahanan insiden friendly fire serta beban logistik menunjukkan supremasi militer mereka tidak lagi sehebat klaim teknologi.
Melihat kenyataan tersebut pertanyaan nurani bangsa muncul apakah kalkulasi Prabowo masih berbasis peta lama sementara medan perang telah berubah drastis.
Teori hubungan internasional mengenal bandwagoning dan balancing yakni mendekat pada yang kuat untuk ikut selamat atau menyeimbangkan agar tak ada yang terlalu dominan.
Pilihan mana yang sedang ditempuh Prabowo belum sepenuhnya terang mungkin condong ke Amerika Serikat atau ia mencoba memainkan keduanya seperti pemain catur yang memegang dua warna bidak dalam satu papan.
Ancaman Perang Dunia III bukan sekadar soal berpihak ke siapa melainkan cermin bagi Indonesia bahwa sejauh mana kita sungguh-sungguh siap berdiri di atas kaki sendiri.
Mandiri bukan hanya dalam pidato tetapi dalam industri pertahanan ketahanan pangan energi dan kohesi nasional seperti yang telah dibuktikan Iran melalui kemandirian teknologi di tengah embargo panjang.
Jika matahari benar-benar redup yang menyelamatkan kita bukan tepuk tangan blok mana pun melainkan daya tahan kita sendiri karena dalam sejarah panjang umat manusia yang bertahan bukan yang paling keras berteriak tentang perang melainkan yang paling tekun menyiapkan damai demikian tulisan Ahmadie Thaha.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

