Repelita Jakarta - Presiden Prabowo Subianto menyatakan kesiapan menjadi juru damai dalam konflik antara Iran dan Amerika Serikat, namun hingga kini tidak mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Kader PDIP Guntur Romli menyoroti ketiadaan pernyataan duka dari Presiden Prabowo untuk kepala negara sahabat yang tewas dalam serangan militer AS dan Israel tersebut.
"Presiden Prabowo tidak ucapkan duka cita atas meninggalnya Sayyid Ali Khamenei Kepala Negara Iran? Mengapa?" kata Guntur Romli dikutip dari unggahannya di X pada Selasa, 3 Maret 2026.
Ia mengaku belum menemukan ucapan duka resmi dari Presiden Prabowo, padahal Khamenei merupakan Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran yang secara de facto adalah kepala negara.
"Secara de facto, saat wafat, Sayyid Ali Khamenei adalah kepala negara Iran," ujar Gun Romli dalam pernyataannya yang menyoroti keheningan Istana.
Padahal menurut dia Iran dan Indonesia adalah negara sahabat yang memiliki hubungan diplomatik kuat dan kerjasama di berbagai bidang selama puluhan tahun.
"Tapi anehnya, ada kepala negara sahabat meninggal, Prabowo tidak mengucapkan kesedihan dan duka cita," ujarnya menyayangkan sikap Presiden.
"Secara etika dan adab ketimuran, raibnya ucapan duka cita itu patut dipertanyakan," tambahnya mengkritisi tidak adanya pernyataan resmi dari pemerintah.
Apalagi ketika pecah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, Prabowo melalui Kementerian Luar Negeri justru buru-buru menawarkan diri menjadi juru damai.
Pemerintah bahkan menyatakan Presiden Indonesia bersedia bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi jika kedua belah pihak menyetujuinya.
"Suatu sikap yang bisa dipuji sebagai kepedulian untuk perdamaian, tapi bagaimana mau jadi juru damai dan mau ke Teheran, mengucapkan duka cita saja tidak dilakukan?" imbuhnya mempertanyakan inkonsistensi sikap.
"Bagaimana mau diterima di Teheran oleh tuan rumah, kalau tatakrama saja tidak ditunaikan?" tambahnya mengkritik pendekatan diplomatik Indonesia yang dinilai ganjil.
Guntur Romli berspekulasi mengenai kemungkinan alasan di balik sikap Presiden Prabowo yang enggan menyampaikan belasungkawa kepada Iran.
"Apakah Prabowo merasa tidak enak, atau mungkin takut pada Donald Trump dan Benjamin Netanyahu? Karena meninggalnya Sayyid Ali Khamenei akibat dari serangan militer AS dan Israel," jelasnya menduga ada pertimbangan politik.
"Tapi apakah hanya karena afiliasi politik dan konflik politik sehingga mematikan nurani kemanusiaan sampai-sampai tidak mengucapkan belasungkawa?" sambungnya mempertanyakan komitmen kemanusiaan.
Ia juga mengungkit prinsip bebas aktif Indonesia yang selama ini menjadi landasan politik luar negeri, namun dalam kasus ini dinilai tidak dijalankan.
"Bukankah Indonesia tidak sedang berperang atau berkonflik dengan Iran?" ujarnya memberikan argumentasi.
"Bukankah Indonesia sama-sama punya hubungan diplomatik dengan AS dan Iran, meskipun keduanya sedang terjadi konflik, harusnya posisi Indonesia tetap bisa bebas aktif antara keduanya," tambahnya.
"Jadi apa hambatan Presiden Prabowo tidak mengucapkan duka cita atas berpulangnya kepala negara Iran?" tanyanya semakin kritis.
Kalaupun terjadi konflik, menurutnya bukan alasan untuk membunuh rasa kemanusiaan yang seharusnya dimiliki oleh seorang pemimpin bangsa.
Ia berharap Prabowo memiliki keberanian untuk menyampaikan ucapan duka secara resmi kepada pemerintah dan rakyat Iran.
"Saya berharap Pak Prabowo punya keberanian mengucapkan duka cita atas berpulangnya kepala negara sahabat Sayyid Ali Khamenei," pungkasnya.
"Selain pertimbangan etik, humanistik, juga diplomatik, syukur-syukur benar-benar jadi ke Teheran Iran untuk menjadi juru damai," harapnya menutup pernyataan.
Melalui akun media sosial @Kemlu_RI, Pemerintah Indonesia menyatakan sangat menyesalkan gagalnya perundingan antara Amerika Serikat dengan Iran.
Indonesia secara resmi menyerukan agar semua pihak yang bertikai menahan diri dan kembali ke meja perundingan.
”Indonesia sangat menyesalkan gagalnya perundingan antara AS dan Iran, yang telah berdampak pada eskalasi militer di kawasan Timur Tengah,” tulis Kemlu.
”Indonesia menyerukan seluruh pihak untuk menahan diri dan mengedepankan dialog dan diplomasi,” lanjut pernyataan resmi kementerian.
Indonesia juga mendorong penyelesaian masalah secara damai melalui jalur diplomatik yang konstruktif dan saling menguntungkan.
Presiden Prabowo menyatakan kesiapan untuk memfasilitasi dialog demi terciptanya kondisi keamanan yang kondusif di kawasan.
”Pemerintah Indonesia dalam hal ini presiden Republik Indonesia menyampaikan kesiapan untuk memfasilitasi dialog bagi terciptanya kembali kondisi keamanan yang kondusif,” lanjut Kemlu.
”Apabila disetujui kedua belah pihak, presiden Indonesia bersedia untuk bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi,” demikian pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri RI.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

