Repelita Jakarta - Iran menciptakan sejarah militer modern setelah drone Shahed-139 miliknya berhasil menempuh jarak hampir dua ribu kilometer melintasi Laut Mediterania dan menghantam Pangkalan Udara Inggris RAF Akrotiri di Siprus tanpa terdeteksi sama sekali oleh sistem pertahanan udara NATO.
Serangan ini menjadi bagian dari respons balasan Iran pasca serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Teheran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada Sabtu dua puluh delapan Februari dua ribu dua puluh enam.
Drone Shahed-139 generasi terbaru tersebut menunjukkan kemampuan jelajah jauh kecepatan subsonik tinggi material komposit penyerap radar navigasi kombinasi GPS inersia serta pencitraan terminal untuk akurasi presisi tinggi.
Rute penerbangan drone ini melewati lapisan pertahanan udara Irak Suriah Turki radar NATO di Laut Mediterania hingga pertahanan Siprus dan pangkalan Inggris namun tetap lolos tanpa satu pun sistem mendeteksi kehadirannya.
Pangkalan RAF Akrotiri merupakan salah satu fasilitas militer Inggris terpenting di luar negeri dengan luas empat ribu hektar ribuan personel landasan pacu panjang serta peran strategis untuk operasi di Timur Tengah dan pengumpulan intelijen kawasan.
Serangan ke pangkalan ini mengirim pesan kuat bahwa tidak ada target Inggris atau NATO yang aman bahkan di wilayah Eropa sehingga konflik kini meluas hingga ke benua tersebut.
Dalam rentang dua puluh empat jam Iran melancarkan serangan simultan ke lima belas negara termasuk dua puluh tujuh pangkalan militer Amerika Serikat serta berbagai fasilitas strategis di kawasan Teluk dan sekitarnya.
Keberhasilan drone murah menembus pertahanan termahal dunia menandai kegagalan total sistem pertahanan udara NATO termasuk AWACS Patriot SAMP/T radar darat serta kapal Aegis di Laut Mediterania.
Prestasi ini mempermalukan aliansi militer terkuat sepanjang sejarah dan memaksa evaluasi ulang doktrin pertahanan udara Barat yang selama ini mengandalkan teknologi miliaran dolar.
Iran membuktikan bahwa sanksi isolasi serta tekanan puluhan tahun tidak menghentikan inovasi militer melainkan justru memicu kemajuan teknologi asimetris yang mampu menantang kekuatan adidaya.
Dunia kini menghadapi realitas baru di mana negara yang selama ini diremehkan mampu menulis ulang aturan perang modern dengan drone berbiaya rendah namun dampak strategis sangat tinggi.
Pergeseran keseimbangan kekuatan global ini menandai akhir era dominasi militer Barat tak tertandingi dan membuka babak multipolar yang lebih berbahaya serta tidak terprediksi.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

