Repelita Jakarta - Seorang pemerhati politik dan kebangsaan M Rizal Fadillah mengusulkan agar Presiden Prabowo Subianto mengurungkan niat berangkat ke Teheran Iran untuk misi mediasi konflik dan lebih baik mengutus Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Menurutnya pengiriman Gibran ke zona konflik dapat menjadi latihan nyata menghadapi situasi perang rudal sehingga ia merasakan tekanan sebenarnya bukan hanya simulasi atau war game.
Ia menilai langkah tersebut juga dapat mengurangi risiko skenario berhalangan tetap bagi presiden yang berpotensi membuat wakil presiden naik tahta secara mendadak.
Fadillah menyatakan rakyat Indonesia sudah memahami adanya dua pusat kekuasaan kembar di mana Prabowo sebagai presiden formal sementara Jokowi berperan sebagai presiden bayangan yang mengendalikan jaringan di politik hukum dan bisnis melalui Gibran.
Ia menilai sangat berbahaya bagi Prabowo jika tetap berangkat ke Teheran karena di mata internasional Indonesia telah masuk klaster Amerika Serikat dan Israel melalui keanggotaan di Board of Peace serta posisi Deputy Commander ISF.
Fadillah menyoroti bahwa Iran merupakan sekutu Rusia dan China dalam BRICS sementara Indonesia dianggap telah murtad dari aliansi tersebut sehingga Prabowo berisiko menjadi sasaran kemarahan bukan penghargaan.
Menurutnya Gibran lebih rasional diutus karena mewakili Jokowi yang memiliki kedekatan dengan China sehingga tingkat sensitivitas lebih rendah dibandingkan Prabowo yang kini dilihat sebagai sahabat Israel dan Amerika musuh utama Iran.
Ia mengingatkan bahwa dulu Prabowo memang memiliki hubungan baik dengan Iran namun kini posisinya telah bergeser sehingga pengiriman dirinya ke Teheran berpotensi menjadi bunuh diri politik.
Fadillah menilai jika Prabowo cerdas maka ia harus mendorong Gibran menghadapi risiko tersebut karena jika terjadi insiden rudal atau drone maka Prabowo tetap aman dari bahaya langsung.
Ia mengutip karakter Prabowo menurut mantan Danjen Kopassus Mayjen Purn Soenarko sebagai pengecut dan culas sehingga lebih baik mengorbankan Gibran ke Teluk agar Prabowo menghadapi rudal domestik dari kemarahan rakyat atas ketidakbecusan memimpin.
Fadillah menegaskan bahwa memaksakan agenda ke Teheran dengan misi Amerika Israel yang gagal sama dengan bunuh diri politik karena pilihan Prabowo sudah sulit menyelamatkan diri.
Ia menyatakan agenda memakzulkan Prabowo-Gibran berdasarkan Pasal tujuh A UUD seratus sembilan belas empat puluh lima telah menjadi prioritas karena ketidakpercayaan bangsa terhadap kemampuan kepemimpinan keduanya.
Menurut Fadillah negara semakin kusut dan semrawut akibat situasi kepemimpinan saat ini.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

