Repelita Jakarta - Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei gugur di kantornya akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu 28 Februari 2026 sehingga meninggalkan duka mendalam serta rasa kehilangan besar bagi seluruh rakyat Iran.
Pemerintah Iran langsung menetapkan masa berkabung nasional selama empat puluh hari untuk menghormati jasa serta kepemimpinan panjangnya di negara tersebut.
Pasca pengumuman kematiannya publik kembali ramai membahas sosok Ayatollah termasuk ciri khasnya yang selalu menyembunyikan satu tangan di balik jubah selama puluhan tahun.
Melansir berbagai sumber berita pada Rabu 3 Maret 2026 terungkap bahwa kebiasaan tersebut berawal dari cedera permanen yang dideritanya akibat upaya pembunuhan delapan tahun sebelum ia menjadi pemimpin tertinggi.
Insiden tragis itu terjadi pada 27 Juni 1981 ketika Ayatollah Khamenei menghadiri salat di sebuah masjid usai kembali dari medan perang Iran-Irak.
Setelah menyelesaikan ibadah ia memberikan ceramah serta menjawab pertanyaan dari para pengikut yang hadir di lokasi tersebut.
Seorang pemuda berpostur sedang berambut keriting berjanggut serta mengenakan jas kotak-kotak mendekat dan meletakkan sebuah tape recorder di atas meja tepat di hadapannya.
Tak lama setelah tombol ditekan alat itu mengeluarkan suara siulan sebelum meledak dengan keras sehingga menyebabkan luka serius.
Di dalam tape recorder ditemukan pesan yang menyatakan bahwa itu merupakan hadiah dari Kelompok Furqan bagi Republik Islam yang saat itu menentang keras pemerintahan ulama.
Ledakan tersebut melukai lengan kanan pita suara serta paru-parunya sehingga memerlukan perawatan intensif selama beberapa bulan untuk pemulihan.
Meskipun sebagian luka berhasil sembuh lengan kanannya mengalami kelumpuhan permanen yang kemudian menjadi alasan ia selalu menyembunyikan tangan tersebut di balik jubah.
Ayatollah Khamenei pernah menyatakan bahwa ia tidak memerlukan tangan itu selama otak serta lidahnya masih berfungsi dengan baik.
Ia kemudian berlatih menulis menggunakan tangan kiri dan secara bertahap naik menjadi figur sentral dalam lingkaran kepemimpinan keagamaan serta politik Iran.
Selama lebih dari tiga puluh lima tahun ia mendominasi kehidupan politik dan keagamaan negara tersebut dengan pengaruh yang sangat kuat.
Informasi mengenai keluarga pribadinya relatif tertutup meskipun diketahui ia meninggalkan seorang istri bernama Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh serta enam anak.
Beberapa kerabat jauhnya diyakini tinggal di luar negeri termasuk keponakan serta cucu yang dilaporkan menetap di Paris sementara keluarga inti tetap berbasis di Iran.
Kematiannya pada usia delapan puluh enam tahun menjadi pukulan berat bagi rezim dan berpotensi menambah tekanan eksternal terhadap kepemimpinan Iran ke depan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

