
Repelita Jakarta - Aktivis Virdian Aurellio menanggapi pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang mengaitkan minimnya pendidikan sebagai penyebab utama menuju negara gagal.
Virdian menilai permasalahan yang dihadapi Indonesia jauh lebih rumit daripada sekadar kekurangan akses pendidikan formal atau jumlah sekolah yang dibangun.
Menurut keyakinan saya Pak Presiden kita memang sedang menuju negara yang gagal ujar Virdian seperti dikutip pada Selasa 10 Februari 2026.
Ia menegaskan bahwa Indonesia tengah berada di jalur negara gagal bukan karena rakyat kurang belajar melainkan karena rusaknya sistem meritokrasi yang seharusnya menjadi pondasi pendidikan dan masa depan generasi muda.
Virdian menjelaskan bahwa pendidikan tidak bisa direduksi hanya pada pembangunan infrastruktur sekolah bagi masyarakat.
Karena pendidikan bukan cuma tentang berapa sekolah rakyat yang sedang anda bangun tapi tentang ekosistem meritokrasi yang sekarang rusak oleh nepotisme tuturnya.
Ia mengkritik praktik nepotisme yang berlangsung secara terbuka dan tanpa rasa malu di berbagai level kekuasaan di Indonesia.
Yang terjadi di Republik ini besar-besaran gila-gilaan telanjang tanpa malu ucap Virdian.
Virdian memberikan sejumlah contoh yang menurutnya mencerminkan kuatnya nepotisme dalam lingkaran kekuasaan.
Baru aja terpilih Deputi Bank Indonesia adalah keponakan Presiden Wakil Presiden adalah anak kandungnya Jokowi ubah konstitusi pula katanya.
Ia juga menyoroti pengangkatan hakim Mahkamah Konstitusi yang dinilai penuh kontroversi.
Nah Hakim MK yang baru adalah Wakil Ketua DPR dan juga Wakil Ketua Umum Partai Golkar Adies Kadir yang sempat kita tentang di Agustus kemarin karena bikin statement nirempatik yang aksi dari masyarakat itu menghasilkan 10 lebih meninggal ucap Virdian.
Sekarang jadi Hakim MK dia dan masih banyak lagi contoh nepotisme sambungnya.
Menurut Virdian kondisi tersebut membuat pendidikan kehilangan makna sebagai investasi jangka panjang bagi individu dan bangsa.
Ia mengutip pandangan ekonom Gary Becker yang menyatakan pendidikan sebagai investasi rasional hanya jika kompetensi benar-benar dihargai.
Giri Becker dalam bukunya pernah menyebut bahwa iya pendidikan adalah investasi tapi investasi hanya masuk akal kalau Republik ini menghargai kompetensi bukan hanya koneksi imbuhnya.
Virdian menilai maraknya nepotisme membuat masyarakat mulai mempertanyakan manfaat mengejar pendidikan tinggi.
Kalau sekarang dengan nepotisme yang terjadi orang rasional akan bertanya buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau kalah sama anak pejabat katanya.
Situasi ini berpotensi menimbulkan sikap apatis terhadap pendidikan di kalangan masyarakat.
Akhirnya ujung-ujungnya orang males berpendidikan ujung-ujungnya apa ngolah ngolah lagi ngolah lagi jilat lagi jilat lagi itu yang terjadi terangnya.
Virdian juga mengkritik kebijakan anggaran yang dinilainya mengurangi prioritas pendidikan demi program lain.
Kita juga menyaksikan bagaimana pendidikan anggarannya dipotong dikasih untuk makan bergizi gratis ujarnya.
Ketimpangan semakin terlihat dari kesejahteraan tenaga pendidik honorer yang tertinggal dibandingkan profesi lain.
Guru honorer gajinya kalah besar itu sama supir dari dapur-dapur MBG dan banyak contoh lainnya dimana kita tahu pendidikan hari ini nggak diprioritaskan katanya.
Ia mengutip pemikiran sosiolog Pierre Bourdieu yang memandang pendidikan sebagai alat mobilitas sosial.
Pierre Bourdie pernah mengatakan bahwa pendidikan adalah mobilitas sosial tapi kita merasakan sekarang bahwa kita tidak seperti diberikan kesempatan walaupun kita berpendidikan bebernya.
Virdian menegaskan kesempatan sering kali kalah oleh faktor keturunan koneksi dan jabatan meskipun kekuasaan seharusnya berasal dari rakyat.
Karena kita kalah sama yang darah biru kita kalah sama yang punya koneksi kita kalah sama mereka yang punya jabatan padahal jabatan dikasih oleh kita rakyat tandasnya.
Ia menutup dengan sindiran tajam terhadap realitas meritokrasi saat ini di Indonesia.
Jadi sekarang wajar aja kalau yang IPK-nya dua koma tiga bisa ngalahin kita semua karena dia punya IPK yang kita semua nggak punya yaitu indeks punya koneksi kuncinya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

