
Repelita Jakarta - Pernyataan kontroversial dari purnawirawan Polri Dharma Pongrekun mengenai sistem pendidikan dan elit global memicu perdebatan luas di ruang publik.
Pandangannya itu disampaikan dalam sebuah podcast bersama dr. Richard Lee yang kemudian beredar luas di berbagai platform media sosial.
Dharma Pongrekun menyoroti struktur pendidikan dasar Indonesia yang menetapkan durasi enam tahun di jenjang sekolah dasar.
Menurut analisisnya, sistem pendidikan tersebut bukanlah sebuah kebijakan yang berdiri sendiri dan terisolasi.
Ia berpendapat bahwa kurikulum pendidikan di berbagai negara di dunia telah didesain secara terpusat oleh kekuatan tertentu.
Keseragaman sistem pendidikan lintas negara bukanlah suatu kebijakan yang muncul secara kebetulan menurut pandangan Dharma.
Mantan perwira Polri itu mengaitkan fenomena tersebut dengan adanya pihak-pihak berkepentingan di tingkat global yang memiliki pengaruh besar.
Ia kemudian mengemukakan teori mengenai figur yang disebutnya sebagai raja minyak dunia yang membentuk yayasan atau foundation tertentu.
Yayasan tersebut diklaim berfungsi untuk mengelola kekayaan sekaligus menutupi kewajiban perpajakan dari kekayaan yang dimiliki.
Dana yang terkumpul dari yayasan itu kemudian dialokasikan untuk membangun sebuah sistem pendidikan berskala global.
Pembangunan sistem tersebut melibatkan berbagai tokoh besar sehingga menghasilkan kurikulum yang seragam di banyak negara.
Tujuan akhir dari sistem pendidikan global itu disebutkan bukan untuk memerdekakan manusia secara intelektual.
Dharma menyebut bahwa sistem itu dirancang untuk membentuk apa yang ia sebut sebagai homo faber.
Manusia dalam konsep tersebut dipersiapkan semata-mata untuk menjadi tenaga kerja yang patuh pada sistem ekonomi yang berlaku.
Mereka diarahkan untuk menjadi roda penggerak ekonomi global tanpa diberikan kemampuan untuk berpikir secara kritis dan mandiri.
Pernyataan ini memicu berbagai reaksi dari masyarakat yang terbagi antara yang setuju dan yang mengkritik.
Sebagian warganet mengaku mulai mempertanyakan kembali tujuan pendidikan yang mereka jalani sejak usia dini.
Isu pendidikan yang disampaikan Dharma dinilai sensitif karena berkaitan langsung dengan pengalaman hidup banyak orang.
Viralnya pernyataan ini menunjukkan betapa topik pendidikan memang memiliki kedekatan emosional dengan masyarakat luas.
Di sisi lain, publik juga diingatkan untuk tetap menjaga sikap kritis dan tidak mudah menerima informasi tanpa verifikasi.
Teori konspirasi yang beredar perlu disikapi dengan bijak tanpa langsung dianggap sebagai kebenaran mutlak.
Perdebatan ini mencerminkan dinamika masyarakat dalam menyikapi narasi-narasi alternatif di luar wacana arus utama.
Dharma Pongrekun sendiri dikenal sebagai purnawirawan Polri kelahiran 12 Januari 1966 dengan latar belakang sebagai analis kebijakan.
Pengalaman panjangnya dalam dunia riset dan analisis di lingkungan kepolisian menjadi dasar bagi berbagai pernyataannya yang sering kali kontroversial.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

