
Repelita Jakarta - Penulis Tere Liye menyampaikan kekecewaan atas respons berlebihan masyarakat terhadap seorang alumni LPDP yang menyatakan kebanggaan anaknya menjadi warga negara asing Inggris.
Dalam unggahan di akun Facebook-nya pada Senin 23 Februari 2026 Tere Liye menilai kritik dan hujatan yang dialamatkan kepada perempuan tersebut terlalu lebay serta tidak proporsional.
Ia mempertanyakan apa dosa sebenarnya dari alumni itu apakah mencuri melakukan korupsi atau berbuat zalim sehingga layak mendapat cibiran massal dari publik.
Tere Liye menegaskan bahwa selama tidak terlibat tindak pidana seperti korupsi atau penyalahgunaan kekuasaan maka status kewarganegaraan anak seseorang tidak sepatutnya menjadi alasan untuk dihujat secara berlebihan.
Ia membandingkan kasus ini dengan penerima dana negara lain seperti janji penciptaan 19 juta lapangan kerja penerima Kartu Prakerja serta bansos bernilai ribuan triliun selama dua dekade yang jarang mendapat sorotan negatif serupa.
Menurutnya yang benar-benar merusak citra Indonesia adalah para koruptor pelaku nepotisme serta mereka yang melakukan suap dan bancakan uang rakyat melalui proyek-proyek negara.
Tere Liye menilai pernyataan alumni LPDP yang mengatakan cukup dirinya saja yang WNI hanyalah pendapat pribadi dan bukan bentuk penghinaan terhadap negara secara keseluruhan.
Ia juga mengkritik tuduhan bahwa perempuan itu pamer atau haus validasi dengan mengingatkan bahwa hampir semua pengguna media sosial memiliki keinginan serupa untuk eksis dan mendapat perhatian.
Meski tidak menyukai video yang terkesan receh serta membawa-bawa anak sebagai privasi Tere Liye tetap menilai reaksi pejabat tokoh dan netizen terhadap kasus ini sangat berlebihan dan tidak masuk akal.
Ia mengajak masyarakat untuk tidak terjebak dalam kontroversi kecil ini dan lebih fokus membahas isu-isu besar seperti program Makan Bergizi Gratis Kartu Prakerja pelemahan KPK serta kerusakan lingkungan.
Tere Liye menutup pernyataannya dengan menyarankan agar jika tidak ada unsur kriminal seperti korupsi atau kezaliman maka video tersebut cukup diabaikan saja demi membahas permasalahan yang lebih substansial bagi bangsa.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

