![]()
Repelita Jakarta - Tiyo Ardianto mahasiswa Program Sarjana Filsafat Universitas Gadjah Mada menjadi sorotan setelah memimpin Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa UGM melontarkan kritik tajam terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran.
Ia terdaftar dengan NIM 21476866FI04940 dan mulai kuliah pada 16 Agustus 2021 serta masih aktif hingga semester genap tahun ajaran 2024/2025.
Tiyo lahir di Kudus Jawa Tengah pada 26 April dan sebelum masuk UGM menempuh pendidikan di SMA Negeri 3 Yogyakarta yang dikenal sebagai sekolah elite pencetak tokoh intelektual.
Di kampus ia dikenal sebagai aktivis mahasiswa yang kritis terhadap kekuasaan dan politik praktis sehingga terpilih menjadi Ketua BEM UGM.
Selama kepemimpinannya Tiyo menunjukkan sikap independen dan sering terlibat dalam pergerakan mahasiswa lintas kampus.
Pada Musyawarah Nasional XVIII Aliansi BEM Seluruh Indonesia di Padang ia memutuskan BEM KM UGM keluar dari organisasi tersebut karena kecewa dengan kehadiran pejabat politik serta negara.
Tiyo menilai Munas justru menunjukkan kedekatan dengan penguasa yang bertentangan dengan nilai perjuangan mahasiswa yang harus independen.
Ia menegaskan komitmen BEM KM UGM untuk tetap berpegang pada gerakan rakyat tanpa intervensi atau kepentingan politik dari pihak manapun.
Tiyo juga mengutuk kekacauan serta bentrokan yang terjadi hingga melukai beberapa mahasiswa dan menolak perebutan jabatan dengan kekerasan.
Ia aktif membangun komunikasi antar kampus agar gerakan mahasiswa lebih menyatu dengan rakyat secara mandiri tanpa kooptasi dari struktur manapun.
Kontroversi memuncak setelah BEM UGM mengirim surat ke UNICEF meminta penghentian program Makan Bergizi Gratis yang dianggap tidak sesuai kondisi lapangan.
Kritik tersebut dikaitkan dengan kasus tragis siswa SD berusia sepuluh tahun yang bunuh diri di Ngada Nusa Tenggara Timur karena tidak mampu membeli alat tulis seharga sepuluh ribu rupiah.
Tiyo disebut menulis What kind of world do we live in when a child loses his life because he cannot afford a pen and a book.
Usai kritik itu Tiyo mengaku menerima serangkaian teror termasuk pesan ancaman dari enam nomor misterius berkode negara Inggris Raya plus empat empat.
Salah satu pesan berbunyi Agen asing jangan cari panggung jual narasi sampah.
Ia juga mendapat serangan di berbagai media sosial seperti Facebook X Instagram hingga TikTok berupa konten pembunuhan karakter yang dibuat dengan AI.
Konten tersebut memfitnah Tiyo dengan tuduhan suka menyewa LC karaoke serta gambar Awas LGBT di UGM menggunakan fotonya.
Bahkan ibunya menerima pesan yang menuduh Tiyo menilep dana kampus.
Tiyo mengklaim mendapat ancaman penculikan secara konsisten antara 9 hingga 11 Februari 2026.
Pada 11 Februari 2026 ia dibuntuti dua pria bertubuh tegap yang mengambil foto dari kejauhan di sebuah kedai.
Meski demikian Tiyo menegaskan tidak akan menunjukkan rasa takut dan tetap berdiri tegak menghadapi teror tersebut.
Cahaya itu telah menerangi gulita teror dan bahaya yang saya keluarga dan pengurus BEM UGM alami kita buat setiap teror itu gagal dengan tetap berdiri tegak dan kepala mendongak.
Ia menyatakan sudah berkomunikasi dengan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan serta pihak kampus untuk tindak lanjut.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

