
Repelita Jakarta - Seorang pengguna media sosial menyatakan keheranan atas sikap sejumlah profesor atau guru besar yang masih meragukan status kelulusan mantan Presiden Joko Widodo dari Universitas Gadjah Mada.
Pernyataan tersebut menyinggung bahwa keraguan tersebut lebih didasarkan pada rasa dengki ketimbang pada pertimbangan logika dan nalar yang sehat.
heran aja ada profesor (GURU BESAR) yang masih meragukan pak Jokowi lulusan UGM. yang besar mungkin Dengkinya…bukan Nalarnnya., tulis @aewin86 satu hari lalu.
Tanggapan balik muncul dari pihak lain yang menilai sikap meragukan ijazah Jokowi justru lahir dari proses penelitian dan penggunaan nalar yang obyektif bukan dari perasaan iri hati.
Menurut pandangan tersebut tidak ada aspek dalam kehidupan Jokowi sebagai mantan presiden yang dapat memicu rasa iri dari seorang profesor mengingat berbagai isu yang melekat padanya seperti tuduhan kebohongan nepotisme dinasti politik hingga penilaian korupsi.
Justru pihak yang langsung menerima keaslian ijazah tanpa pernah melihat dokumen aslinya dinilai kurang menggunakan nalar dalam menilai persoalan tersebut.
Perdebatan ini kembali mencuat di ruang publik digital dengan tagar yang berkaitan dengan isu ijazah dan figur mantan presiden.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok.

