Breaking Posts

-->
6/trending/recent

Hot Widget

-->
Type Here to Get Search Results !

[PEDAS] Virdian ke Prabowo: Negara Gagal Dimulai Saat Gibran Maju Cawapres hingga Gaji Sopir MBG Lebih Besar dari Guru Honorer

 

Repelita Jakarta - Aktivis Virdian Aurellio menanggapi pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang mengaitkan minimnya pendidikan sebagai pemicu utama menuju negara gagal dengan menilai persoalan Indonesia jauh lebih dalam dan sistemik.

Virdian menyatakan bahwa Indonesia sudah berada di jalur negara gagal bukan karena kurangnya akses belajar melainkan karena hancurnya sistem meritokrasi akibat praktik nepotisme yang merajalela.

Menurut keyakinan saya Pak Presiden kita memang sedang menuju negara yang gagal ujar Virdian seperti dikutip pada Selasa 10 Februari 2026.

Ia menekankan bahwa pendidikan bukan sekadar pembangunan gedung sekolah bagi rakyat melainkan ekosistem yang menjunjung kompetensi bukan hubungan keluarga atau koneksi politik.

Karena pendidikan bukan cuma tentang berapa sekolah rakyat yang sedang anda bangun tapi tentang ekosistem meritokrasi yang sekarang rusak oleh nepotisme tuturnya.

Virdian mengkritik bahwa nepotisme di Indonesia berlangsung secara terbuka tanpa rasa malu dan dalam skala yang sangat besar.

Yang terjadi di Republik ini besar-besaran gila-gilaan telanjang tanpa malu ucapnya.

Ia menyebut sejumlah contoh konkret termasuk penunjukan posisi strategis yang diduga berbasis hubungan keluarga dengan pemimpin negara.

Baru aja terpilih Deputi Bank Indonesia adalah keponakan Presiden Wakil Presiden adalah anak kandungnya Jokowi ubah konstitusi pula katanya.

Virdian juga menyoroti pengangkatan hakim Mahkamah Konstitusi yang dinilai sarat kontroversi dan bertentangan dengan prinsip keadilan.

Nah Hakim MK yang baru adalah Wakil Ketua DPR dan juga Wakil Ketua Umum Partai Golkar Adies Kadir yang sempat kita tentang di Agustus kemarin karena bikin statement nirempatik yang aksi dari masyarakat itu menghasilkan 10 lebih meninggal ucap Virdian.

Sekarang jadi Hakim MK dia dan masih banyak lagi contoh nepotisme sambungnya.

Menurutnya kondisi tersebut membuat pendidikan kehilangan nilai sebagai sarana investasi masa depan karena kompetensi sering dikalahkan oleh faktor darah biru.

Giri Becker dalam bukunya pernah menyebut bahwa iya pendidikan adalah investasi tapi investasi hanya masuk akal kalau Republik ini menghargai kompetensi bukan hanya koneksi imbuhnya.

Virdian menilai masyarakat kini mulai mempertanyakan urgensi mengejar pendidikan tinggi jika hasilnya tetap kalah dengan anak pejabat.

Kalau sekarang dengan nepotisme yang terjadi orang rasional akan bertanya buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau kalah sama anak pejabat katanya.

Situasi ini berpotensi menciptakan sikap apatis terhadap pendidikan dan mendorong perilaku oportunis demi bertahan hidup.

Akhirnya ujung-ujungnya orang males berpendidikan ujung-ujungnya apa ngolah ngolah lagi ngolah lagi jilat lagi jilat lagi itu yang terjadi terangnya.

Ia juga mengkritik prioritas anggaran negara yang mengurangi alokasi pendidikan demi program lain seperti makan bergizi gratis.

Kita juga menyaksikan bagaimana pendidikan anggarannya dipotong dikasih untuk makan bergizi gratis ujarnya.

Ketimpangan semakin nyata ketika gaji tenaga pendidik honorer lebih rendah dibandingkan profesi pendukung program pemerintah tertentu.

Guru honorer gajinya kalah besar itu sama supir dari dapur-dapur MBG dan banyak contoh lainnya dimana kita tahu pendidikan hari ini nggak diprioritaskan katanya.

Virdian mengutip pandangan Pierre Bourdieu bahwa pendidikan seharusnya menjadi alat mobilitas sosial namun kini kesempatan itu tertutup bagi yang tidak memiliki koneksi.

Pierre Bourdie pernah mengatakan bahwa pendidikan adalah mobilitas sosial tapi kita merasakan sekarang bahwa kita tidak seperti diberikan kesempatan walaupun kita berpendidikan bebernya.

Ia menegaskan bahwa jabatan dan kekuasaan seharusnya berasal dari rakyat bukan dari garis keturunan atau relasi pribadi.

Karena kita kalah sama yang darah biru kita kalah sama yang punya koneksi kita kalah sama mereka yang punya jabatan padahal jabatan dikasih oleh kita rakyat tandasnya.

Virdian menutup dengan sindiran bahwa prestasi akademik kini kalah oleh indeks koneksi yang dimiliki seseorang.

Jadi sekarang wajar aja kalau yang IPK-nya dua koma tiga bisa ngalahin kita semua karena dia punya IPK yang kita semua nggak punya yaitu indeks punya koneksi kuncinya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

-->

Below Post Ad

-->

Ads Bottom

-->
Copyright © 2023 - Repelita.net | All Right Reserved