Repelita Jakarta - Partai Amanat Nasional tidak hanya mendorong agar Presiden Prabowo Subianto menjabat selama dua periode melainkan juga mengusulkan pasangan Prabowo dengan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan dalam konstelasi politik mendatang.
Usulan Prabowo-Zulhas dinilai lebih pantas dibandingkan opsi Prabowo-Muhaimin Iskandar karena PAN memiliki catatan kontribusi yang lebih konsisten dalam mendukung Prabowo di tiga pemilu berturut-turut.
PAN turut berperan penting dalam kemenangan pasangan Prabowo-Gibran pada pemilu sebelumnya sehingga posisinya dianggap lebih berhak atas pengakuan dibandingkan PKB yang tidak ikut serta dalam koalisi pemenang tersebut.
Sejak tahun lalu PAN telah secara terbuka menyatakan dukungan untuk Prabowo menjabat dua periode sementara PKB pada saat itu mengkritik langkah PAN sebagai terlalu tergesa-gesa.
Kini PKB juga menyampaikan dukungan serupa untuk Prabowo dua periode sehingga PAN merespons dengan mengusulkan pasangan Prabowo-Zulhas agar tidak tertinggal langkah dari partai pesaing.
Yang menonjol dari sikap PAN adalah keputusan memasangkan Prabowo dengan Zulhas meskipun Presiden Joko Widodo telah berulang kali menyatakan keinginan agar pasangan Prabowo-Gibran berlanjut hingga periode kedua.
Langkah tersebut secara implisit mengesampingkan atau mempersempit peluang kelanjutan Prabowo-Gibran dua periode meski petinggi PAN termasuk Zulhas pernah menyatakan bahwa Jokowi tetap menjadi pemimpin mereka hingga saat ini.
Pernyataan tersebut memunculkan spekulasi mengenai adanya fenomena matahari kembar dalam kepemimpinan nasional yang semakin menguat sejak kunjungan elite PAN ke kediaman Jokowi di Solo pada Idul Fitri tahun lalu.
PAN mulai menunjukkan upaya menjaga jarak dengan Jokowi termasuk melalui dukungan cepat terhadap Prabowo dua periode setelah pernyataan tersebut disampaikan.
Situasi serupa juga terjadi pada Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto yang sempat menghadiri acara Idul Fitri di Solo menggunakan pesawat jet pribadi namun kini Golkar masih fokus mendukung pemerintahan Prabowo-Gibran saat ini.
Golkar belum secara eksplisit menyatakan dukungan Prabowo dua periode apalagi memasangkan dengan Gibran sehingga dinilai masih berada dalam posisi ragu antara mengikuti arah Prabowo atau tetap selaras dengan Jokowi.
Ketidakjelasan sikap Golkar berpotensi memicu ketegangan internal partai jika berlarut-larut mengingat partai-partai lain telah lebih tegas menyatakan posisinya.
Presiden Prabowo diyakini tidak akan membiarkan keraguan tersebut berlangsung lama karena dapat menimbulkan gejolak baik di tingkat eksternal koalisi maupun di dalam tubuh Golkar sendiri.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok.

