Breaking Posts

-->
6/trending/recent

Hot Widget

-->
Type Here to Get Search Results !

Ojol Terjepit Pendapatan Kian Kecil, Beban Hidup Terus Membengkak

 Bekerja lebih dari 10-14 jam sehari, jutaan pengemudi ojek daring atau ojol  masih bergulat dengan pendapatan rendah dan ketidakpastian. #Ekonomi  #AdadiKompas

Repelita Jakarta - Pengemudi ojek daring kini menjadi representasi paling jelas dari dinamika ekonomi digital di berbagai kota besar Indonesia.

Jutaan individu mengandalkan platform transportasi dan pengiriman berbasis aplikasi sebagai sumber penghidupan utama.

Setiap hari mereka melintasi jalanan untuk mengantarkan penumpang makanan serta paket sehingga menghubungkan kebutuhan masyarakat dengan pusat aktivitas ekonomi.

Meskipun demikian kondisi kesejahteraan para pengemudi ojek daring cenderung stagnan dan bahkan mengalami penurunan daya beli.

Realitas yang dihadapi mayoritas pengemudi adalah ketidakpastian pendapatan jam kerja yang sangat panjang serta beban biaya operasional harian yang terus menggerus penghasilan bersih.

Profesi ini sering menjadi pilihan terakhir akibat terbatasnya kesempatan kerja di sektor formal yang lebih stabil.

Wahyu Dwi Bijaksana berusia 39 tahun seorang pengemudi ojek daring di Surabaya Jawa Timur merupakan salah satu contoh nyata.

Ia memulai pekerjaan ini sejak tahun 2021 setelah mengalami pemutusan hubungan kerja dari pabrik pecah belah akibat dampak pandemi Covid-19.

Pesangon yang diterimanya kurang dari delapan juta rupiah hanya mampu menutupi kebutuhan keluarga kecilnya dalam waktu terbatas.

Wahyu menyatakan setelah kehilangan pekerjaan tetap ia telah berusaha mencari lapangan kerja di berbagai tempat namun tidak berhasil sehingga terpaksa beralih menjadi pengemudi ojek daring.

Awalnya ia berharap profesi ini hanya bersifat sementara namun setelah lebih dari setahun berjalan kondisi ekonomi keluarganya hampir tidak mengalami perbaikan signifikan.

Pada hari yang dianggap ramai penghasilan kotor Wahyu berkisar antara seratus lima puluh ribu hingga dua ratus ribu rupiah.

Angka tersebut terlihat cukup menjanjikan namun langsung berkurang drastis setelah dikurangi berbagai potongan dan biaya operasional.

Komisi yang dipotong oleh penyedia aplikasi mencapai hingga dua puluh persen dari setiap transaksi yang berhasil.

Selain itu terdapat potongan harian agar akun tetap berada dalam prioritas sistem yang bisa mencapai delapan belas ribu hingga tiga puluh empat ribu rupiah per aplikasi.

Istri Wahyu yaitu Ana Indrawati berusia 36 tahun yang juga bekerja sebagai pengemudi ojek daring menyatakan bahwa tanpa mengikuti sistem prioritas tersebut jumlah pesanan akan semakin menurun.

Di tengah tuntutan kehidupan yang terus meningkat para pengemudi ojek daring tidak hanya berjuang melawan kemacetan jalanan melainkan juga menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat antara pendapatan minim dan tanggungan keluarga yang terus bertambah.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

-->

Below Post Ad

-->

Ads Bottom

-->
Copyright © 2023 - Repelita.net | All Right Reserved