![]()
Repelita Jakarta - Iran kembali menegaskan sikap keras terhadap perilaku diplomatik Amerika Serikat menjelang pembicaraan nuklir di Jenewa yang berpotensi gagal sebelum dimulai.
Parlemen Teheran menekankan bahwa proses diplomasi hanya dapat berjalan jika Amerika menunjukkan sikap yang lebih beradab dan menghormati.
Ketegangan antara kedua negara semakin memasuki fase paling rapuh dalam beberapa tahun terakhir akibat saling tuding dan tekanan politik.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf memperingatkan bahwa Washington harus memilih jalur diplomasi yang konstruktif agar hasil perundingan dapat tercapai.
Ia menegaskan Iran tidak akan tunduk pada bentuk tekanan apa pun terutama menjelang negosiasi penting tentang masa depan program nuklir nasional.
Beberapa bulan terakhir Iran telah mengkalibrasi ulang sikap pertahanannya dengan menyatakan seluruh pangkalan militer Amerika di Timur Tengah sebagai target sah jika konflik meningkat.
Meski bersifat ancaman pernyataan tersebut menandakan betapa tipisnya jarak menuju eskalasi regional yang lebih luas.
Gerak armada laut Amerika juga menunjukkan ketegangan dengan kapal-kapal Angkatan Laut AS yang biasanya bersandar di Bahrain kini lebih sering berada di perairan terbuka.
Langkah tersebut dipandang sebagai upaya mitigasi risiko di tengah ancaman perang regional yang dapat berdampak langsung pada puluhan ribu tentara Amerika di kawasan.
Sementara itu parlemen Kongres Amerika Serikat menegaskan komitmen pada jalur perundingan namun tetap menekankan bahwa negosiasi harus dilakukan dengan martabat sesuai posisi geopolitik global Amerika.
Dualisme sikap antara tekanan dan diplomasi ini membuat proses negosiasi semakin tidak stabil dan rentan deadlock.
Pengamat politik regional khawatir pembicaraan di Jenewa dapat gagal sejak awal sehingga diplomasi berubah menjadi arena saling sindir dan uji kekuatan.
Teheran menyatakan siap bersikap fleksibel selama Amerika melakukan hal yang sama namun kenyataan di lapangan menunjukkan kedua pihak masih mengandalkan strategi negosiasi keras.
Di sisi Iran tekanan dianggap sebagai campur tangan yang tidak menghormati posisi negara tersebut sementara Amerika menilai tekanan diperlukan agar Iran tidak memanfaatkan diplomasi untuk mengulur waktu.
Negara-negara Eropa sebagai mediator tengah mendorong kedua pihak meredakan tensi karena kegagalan kesepakatan akan berdampak langsung pada stabilitas kawasan.
Jika negosiasi ini gagal para pakar keamanan memperkirakan potensi eskalasi yang lebih luas dengan risiko konflik regional yang meningkat.
Kegagalan diplomasi tidak hanya menimbulkan ketidakpastian bagi Teheran dan Washington tetapi juga memperbesar ancaman stabilitas global.
Semua mata kini tertuju pada Jenewa di mana pembicaraan ini menjadi momentum krusial yang dapat menentukan arah hubungan Iran-Amerika untuk waktu panjang.
Di tengah saling tuding dan tegangnya dinamika politik internasional keberhasilan diplomasi menjadi satu-satunya jalan mencegah krisis yang lebih dalam.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok.

