Breaking Posts

-->
6/trending/recent

Hot Widget

-->
Type Here to Get Search Results !

Nazlira Alhabsy: Kasus Tyas Bukan Soal Nasionalisme, tapi Cermin Standar Ganda Masyarakat

 

Repelita Jakarta - Polemik seputar Dwi Sasetyaningtyas alias Tyas penerima beasiswa LPDP yang memilih menetap di Inggris dan berharap anaknya memperoleh kewarganegaraan asing terus memicu respons beragam dari berbagai kalangan masyarakat.

Pengacara sekaligus pegiat media sosial Nazlira Alhabsy angkat bicara dengan menekankan bahwa kasus ini bukan hanya persoalan nasionalisme semata melainkan mencerminkan masalah yang lebih mendalam di masyarakat.

Nazlira menyatakan bahwa hujatan deras terhadap Tyas disertai label negatif seperti kacang lupa kulit pengkhianat negara hingga pencuri uang rakyat mengalir deras di ruang publik.

Ia mengajak masyarakat untuk melihat perkara ini dengan kepala dingin alih-alih terbawa emosi sesaat karena kasus Tyas sebenarnya menjadi cermin besar atas standar ganda yang selama ini dipelihara tanpa disadari.

Menurut Nazlira narasi utama yang digunakan untuk menyerang Tyas adalah sudah dibiayai pajak rakyat namun tidak mau mengabdi malah menjelekkan negara yang terdengar heroik tapi sebenarnya rapuh secara logika.

Ia menjelaskan bahwa jutaan rakyat Indonesia setiap hari menikmati fasilitas negara yang juga bersumber dari pajak kolektif dan kekayaan alam tanpa harus kehilangan hak untuk berbeda pandangan.

Nazlira memberikan contoh ketika masyarakat menyekolahkan anak di sekolah negeri gratis berobat dengan subsidi BPJS menerima bantuan sosial atau program Makan Bergizi Gratis apakah mereka lantas dilarang mengkritik pemerintah.

Ia mempertanyakan apakah setelah menerima fasilitas tersebut rakyat biasa tidak boleh memilih sikap oposisi atau kecewa terhadap birokrasi negara padahal kenyataannya hal itu tetap diperbolehkan.

Nazlira menegaskan bahwa publik bebas bersuara kritis bahkan menjadi oposisi keras terhadap kebijakan pemerintah meskipun telah menikmati manfaat dari pajak bersama.

Ia membandingkan dengan tren kabur aja dulu atau better life abroad yang pernah viral serta apresiasi masyarakat terhadap pekerja migran sukses di luar negeri yang dianggap pejuang devisa.

Menurut Nazlira esensi sikap Tyas sama dengan mereka yang mencari kehidupan lebih baik di luar negeri yaitu protes terhadap buruknya penyelenggaraan negara bukan kebencian terhadap tanah air.

Nazlira juga menyebut istilah satire seperti Negara Konoha atau Republik Oknum sebagai bentuk protes terhadap pemerintah bukan representasi kebencian terhadap negara sebagai tanah air.

Ia menutup dengan pertanyaan reflektif apakah mereka yang mengkritik Tyas akan menolak tawaran gaji besar jaminan kesehatan kelas satu serta pendidikan gratis di Eropa demi nasionalisme semata.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

-->

Below Post Ad

-->

Ads Bottom

-->
Copyright © 2023 - Repelita.net | All Right Reserved