
Repelita Jakarta - Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai memberikan tanggapan pedas terhadap sindiran Pakar Hukum Tata Negara Zainal Arifin Mochtar yang meragukan klaimnya memahami HAM sejak usia lima tahun.
Pigai menegaskan pemahaman tentang hak asasi manusia telah terbentuk sejak lahir karena ia dibesarkan di wilayah konflik yang penuh kekerasan.
Jangankan 5 tahun sejak lahir saya sudah hidup di tengah moncong senjata.
Ia menyebut Enarotali Paniai sebagai tempat tinggal yang membentuk kesadaran kemanusiaannya secara mendalam.
Di situ saya rasakan batas tipis antara hidup dan mati baik dan jahat bagaimana orang jerit ratap dan rinti haus dan lapar adil dan tidak adil mana sakit dan senang itulah esensi dasar HAM universal yang dimaknai umat manusia termasuk saya.
Pengalaman hidup di tengah konflik itulah yang menjadi fondasi utama dirinya memahami nilai hak asasi manusia secara mendasar.
Di situlah saya mengerti nilai fundamental tentang Hak Asasi Manusia.
Pigai juga menyoroti perjalanan panjangnya sebagai aktivis pembela kelompok rentan yang telah diuji oleh berbagai cobaan dan hinaan selama puluhan tahun.
Perjalanan hidup yang membentuk karakter dan integritas saya selama puluhan tahun sebagai pembela orang-orang tertindas pengungkap suara bagi mereka yang tak bersuara telah teruji dengan mengarungi badai dan gelombang cacian makian dan hinaan.
Saya telah tunjukkan integritas saya sebagai penjaga kaum lemah de oppreso liber.
Ia menegaskan pernah menjadi korban pelanggaran HAM sebelum akhirnya dipercaya memimpin kementerian yang menangani bidang tersebut.
Dari seorang Korban HAM hingga menjadi orang nomor 1 di bidang HAM di RI saya bekerja mencatat sejarah menyelami sejarah dan menentukan sejarah HAM di Republik ini.
Pigai kemudian menyindir balik Zainal Arifin Mochtar yang sebelumnya menyindirnya.
Sepengetahuan saya seorang Guru Besar memiliki tingkat pemahaman yang tinggi tentang esensi kehidupan berfikir dalam bahasa sastra yang tinggi pemahaman filosofis yang tinggi tetapi rupanya anda hanya Guru yang dibesar-besarkan.
Sebelumnya Zainal Arifin Mochtar menyinggung pengalaman pribadinya untuk menjelaskan bahwa memahami sesuatu sejak dini tidak menjamin bebas dari kesalahan di kemudian hari.
Cuma pengen cerita saya ketika lima tahun juga sudah tahu bahasa indonesia tapi sekarang saya masih bisa salah berbahasa.
Saya sejak lima tahun sdh belajar membaca Al Quran tapi sampai sekarang masih sering salah ya begitulah.
Zainal juga mengutip pandangan Imam Al Ghazali tentang empat jenis manusia berdasarkan kesadaran atas pengetahuan yang dimiliki.
Saya cuma mau kutipkan Imam Al Ghazali bahwa ada 4 jenis manusia.
Pertama orang yang tahu dan dia tahu bahwa dia tahu kedua orang yang tahu tapi dia tidak tahu bahwa dia tahu ini orang yang perlu disadarkan.
Ketiga orang yang tidak tahu dan dia tahu bahwa dia tidak tahu orang awam ini perlu belajar dan wajib diajari.
Keempat orang yang tidak tahu dan dia tidak tahu bahwa dia tidak tahu orang jenis ini sesat dan menyesatkan perlu dihindari.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

