Repelita Ngawi - Konten kreator Riza Muhammad menyuarakan keresahan terkait skema pembiayaan Koperasi Desa Merah Putih yang berbentuk utang dalam jumlah sangat besar.
Ia menyampaikan hal tersebut saat mengunjungi salah satu Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih di Desa Tambakromo Kecamatan Geneng Kabupaten Ngawi Jawa Timur dengan menggunakan sepeda seperti kebiasaannya.
Dalam video yang diunggah di media sosialnya Riza menyoroti bangunan koperasi yang dibangun melalui pinjaman senilai Rp3 miliar.
Bangunan koperasi ini pinjaman senilai Rp3 miliar rincian Rp3 miliar itu adalah Rp2,5 miliar untuk bangunan jadi meliputi bangunan koperasinya mobil dan sarana penunjang kata Riza sambil membacakan narasi dari ponselnya.
Ia menjelaskan Rp500 juta sisanya diperuntukkan sebagai modal perputaran barang dan isian stok yang semuanya bersifat utang dan harus dikembalikan beserta bunga 4 persen per tahun.
Jadi begitu kita ready duit modal diterima dan bangunan sudah dibikin maka bulan depan kita sudah harus bayar angsuran Rp50 juta per bulan atau cicilan Rp600 juta per tahun beber alumni Universitas Padjadjaran itu.
Menurutnya untuk menghasilkan laba bersih Rp50 juta per bulan dengan margin koperasi 5 persen maka diperlukan omset Rp1 miliar per bulan atau Rp33 juta per hari secara stabil.
Untuk marginnya 3 persen maka Rp50 juta dibagi 3 persen harus menghasilkan Rp1,67 miliar omset per bulan ngeri sekali ya apakah sanggup nanti tanya Riza.
Ia mempertanyakan apakah setiap desa memiliki daya beli sekuat itu karena tidak ada jaminan kepastiannya.
Apakah pengurus koperasi punya pengalaman mengelola duit sebesar itu stabil beberpa tahun coba cek koperasi latar belakang pengusaha dengan omset di atas Rp1 miliar sebulan ada enggak imbuhnya.
Riza menegaskan KDMP bukan sekadar bisnis warung kelontong desa dengan omset beberapa juta melainkan harus mencapai Rp33 juta per hari.
Nah itu dia biar bisa bayar angsuran Rp50 juta per bulan Rp33 juta per hari ya luar biasa itu kelasnya Indomart Alfamart ya itu saja belum tentu dapat segitu per hari apalagi dengan banyaknya koperasi yang baru dibuat yah saya rasa itu akan mustahil ucapnya.
Apalagi perhitungan tersebut belum termasuk pembayaran pegawai karena gaji baru bisa dibayarkan setelah angsuran dan operasional terpenuhi.
Meski demikian Riza menyebut ada skenario jika perencanaan tidak sesuai implementasi pertama macet ringan ketika laba hanya Rp35 juta per bulan sehingga defisit Rp15 juta per bulan atau Rp180 juta setahun yang kemungkinan berujung restrukturisasi.
Kedua macet sedang ketika hanya mampu bayar Rp25 juta per bulan maka defisit Rp25 juta per bulan atau Rp300 juta setahun dengan cash flow tertekan kepercayaan retak dan pengurus disalahkan.
Ketiga gagal total ketika tidak menghasilkan laba sama sekali sehingga lubang Rp600 juta per tahun bunga tetap berjalan dan status bermasalah.
Melihat kondisi fiskal desa saat ini ditambah skema utang yang dibebankan pada dana desa menurutnya pembangunan infrastruktur seperti jalan saluran air dan program pemberdayaan akan terhenti.
Itu kemungkinan terburuk saluran air tertunda program pemberdayaan terpangkas infrastruktur kecil desa terancam macet dalam ekonomi publik ini disebut crowed out anggaran pembangunan tersedot untuk mengambil risiko usaha paparnya.
Riza menyadari kehadiran KDMP masih menjadi topik pro kontra dan berharap pemerintah memiliki ide brilian untuk mengatasinya.
Jadi memang rakyat ini pola pikirnya belum sampai semoga nanti memang hadirnya koperasi ini dapat beri manfaat sesuai janjinya pemerintah soalnya ini memang berat pungkasnya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok.

