
Repelita Jakarta - Polemik yang dipicu pernyataan Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai tentang seorang profesor yang kerap dibesar-besarkan memunculkan adu argumen terbuka dengan Pakar Hukum Tata Negara Prof Zainal Arifin Mochtar.
Prof Zainal yang akrab disapa Uceng memilih merespons dengan sikap tenang meski sarat sindiran halus tanpa terpancing emosi berlebih.
Ia menyatakan kesediaannya untuk belajar langsung tentang hak asasi manusia dari Natalius Pigai sesuai pernyataan menteri tersebut.
Pak Natalius Pigai saya setuju dengan bapak seringkali profesor itu dibesar-besarkan saja saya izin mau belajar memahami HAM dari bapak ujar Uceng melalui cuitannya di X pada 26 Februari 2026.
Uceng melanjutkan dengan menantang diskusi terbuka untuk membahas satu per satu kasus hak asasi manusia di Indonesia yang diklaim telah dipahami mendalam oleh Pigai.
Ia meminta waktu dan tempat agar bisa belajar langsung dari pengalaman dan pengetahuan Pigai terkait berbagai peristiwa HAM.
Natalius Pigai segera membalas dengan menyatakan kesiapan penuh untuk berdebat secara ilmiah dan terbuka.
Ia mengusulkan agar perdebatan digelar secara langsung di stasiun televisi nasional agar dapat disaksikan masyarakat luas.
Saya setuju di TV Nasional dan Live anda yang undang maka saya minta anda yang siapkan kita bicara dalam tataran ilmiah saya benar-benar mau ajari anda soal HAM agar paham balas Pigai.
Pigai menyertakan tautan video YouTube sebagai bahan awal studi bagi Uceng sebelum debat dilaksanakan.
Tapi nonton ini dulu untuk sekedar tambahan ilmu HAM anda sebelumnya debat dengan saya sebutnya.
Ia menekankan keinginan agar rakyat Indonesia bisa menyaksikan langsung kualitas perdebatan antara keduanya.
Jujur saya sangat mau biar rakyat indonesia nonton seberapa hebat ilmu HAM seorang Prof imbuhnya.
Menanggapi usulan tersebut Uceng kembali merespons dengan sikap rendah hati karena tidak memiliki wewenang untuk mengatur forum televisi nasional.
Saya gak punya kekuasaan pak semoga ada tv nasional yang bisa fasilitasi kalau bapak yang colek mereka mungkin lebih berarti terima kasih youtubenya ucap Uceng.
Ia menjelaskan latar belakang akademiknya di bidang hak asasi manusia yang mencakup penelitian selama tiga tahun di Pusat Studi HAM Universitas Islam Indonesia Yogyakarta serta pendidikan S2 Hukum HAM di Amerika Serikat.
Uceng menyatakan kegembiraannya jika bisa belajar lebih lanjut dari Pigai meski memiliki pengalaman tersebut.
Sebelumnya sindiran dari Zainal Arifin Mochtar memancing respons panjang dari Natalius Pigai yang menyoroti perjalanan hidupnya.
Pigai menegaskan pemahaman HAM-nya terbentuk sejak lahir karena dibesarkan di wilayah konflik Enarotali Paniai.
Jangankan 5 tahun sejak lahir saya sudah hidup di tengah moncong senjata ujar Pigai melalui cuitannya di X pada 25 Februari 2026.
Ia menceritakan pengalaman hidup di tengah batas tipis antara hidup dan mati serta berbagai bentuk penderitaan yang membentuk kesadaran kemanusiaannya.
Di situ saya rasakan batas tipis antara hidup dan mati baik dan jahat bagaimana orang jerit ratap dan rinti haus dan lapar adil dan tidak adil mana sakit dan senang itulah esensi dasar HAM universal yang dimaknai umat manusia termasuk saya tuturnya.
Menurut Pigai pengalaman hidup di zona konflik menjadi fondasi utama pemahaman substantif tentang hak asasi manusia.
Ia menegaskan rekam jejak panjang sebagai pembela kelompok rentan yang telah diuji melalui berbagai cobaan dan hinaan selama puluhan tahun.
Perjalanan hidup yang membentuk karakter dan integritas saya selama puluhan tahun sebagai pembela orang-orang tertindas pengungkap suara bagi mereka yang tak bersuara telah teruji dengan mengarungi badai dan gelombang cacian makian dan hinaan tambahnya.
Pigai menyatakan dirinya pernah menjadi korban pelanggaran HAM sebelum akhirnya dipercaya memimpin kementerian terkait.
Dari seorang Korban HAM hingga menjadi orang nomor 1 di bidang HAM di RI saya bekerja mencatat sejarah menyelami sejarah dan menentukan sejarah HAM di Republik ini bebernya.
Ia kembali menyinggung Zainal dengan menyebut pemahaman seorang guru besar seharusnya lebih tinggi namun kenyataannya hanya dibesar-besarkan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok.

