
Repelita Jakarta - Presiden Prabowo Subianto menghadiri KTT Perdana Board of Peace di Washington D.C. yang dipimpin mantan Presiden AS Donald Trump dengan Indonesia sebagai penandatangan pertama.
Indonesia berencana mengirim 8.000 pasukan perdamaian ke Gaza dengan tahap awal 1.000 pasukan dijadwalkan berangkat pada April mendatang.
Keikutsertaan Indonesia dalam BoP menuai kritik karena lembaga tersebut identik dengan sikap megalomaniak dan pendekatan keras Trump terhadap sekutu termasuk kebijakan tarif kontroversial.
Peneliti ISEAS Yosuf Ishak Institute Made Supriatma mempertanyakan antusiasme Indonesia mendukung Trump sementara tetap menjalin hubungan erat dengan China sebagai lawan utama Trump.
Made Supriatma menyatakan “Apakah ini politik 'bebas dan aktif'? Tapi bukankah bebas aktif itu berarti mandiri dan menjadi pemimpin dari negara-negara bekas jajahan yang ingin memperoleh kekuatan internasional tanpa harus memihak yang adidaya” dikutip dari unggahannya di media sosial pada Sabtu 21 Februari 2026.
Ia menilai perjanjian dagang dengan AS sangat merugikan karena barang Indonesia kena tarif 19 persen sementara barang AS masuk bebas bea alias tarif nol persen.
Menurut Made hasil kunjungan ke Washington tidak mengubah tarif yang tetap 19 persen sehingga Indonesia justru dipaksa mengimpor komoditas AS tanpa tarif menggantikan pasar China yang terhenti akibat perang dagang.
Made Supriatma menegaskan “Indonesia tetap kena 19%! Jadi apa hasil ke Washington? Nada. Nol. Tidak ada.”
Ia juga menyoroti perpanjangan kontrak Freeport hingga 2041 dengan kepemilikan Indonesia naik menjadi 63 persen meskipun tetap ada risiko biaya manajemen sewa peralatan serta tanggung jawab lingkungan yang memberatkan.
Made menilai ide Trump menjadikan Gaza sebagai Riviera indah penuh hiburan serta memberikan pekerjaan bagi rakyat Gaza terlalu mengandalkan modal dan menguntungkan pemodal termasuk dugaan keluarga Trump sendiri.
Ia menyatakan bahwa negara-negara dengan pemerintahan waras termasuk Vatikan menolak berpartisipasi dalam BoP sehingga menambah keraguan atas efektivitas lembaga tersebut.
Made Supriatma mengkritik sikap Presiden Prabowo yang dikenal berapi-api dalam pidato namun terlihat lemah menghadapi Trump dengan pertanyaan “Mengapa menjadi ayam sayur ketika berhadapan dengan Trump?”
Ia menyinggung pernyataan Prabowo yang mengingatkan birokrat bahwa jika Indonesia diserang tidak ada yang membela sehingga menciptakan imajinasi ketakutan yang tidak berdasar.
Made Supriatma menyimpulkan bahwa Indonesia tetap miskin karena ditipu dan dirampok negara asing namun kini justru merampok dan menipu diri sendiri.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

