![]()
Repelita Jakarta - Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Gadjah Mada Tiyo Ardianto mengalami serangkaian teror setelah organisasinya mengirim surat resmi ke United Nations Children Fund pada Jumat enam Februari dua ribu dua puluh enam.
Surat tersebut memprotes program Makan Bergizi Gratis yang dianggap tidak sesuai kondisi riil di lapangan serta mengaitkannya dengan tragedi bunuh diri siswa SD berusia sepuluh tahun di Ngada Nusa Tenggara Timur karena tidak mampu membeli alat tulis seharga sepuluh ribu rupiah.
Tiyo disebut menuliskan pertanyaan retoris What kind of world do we live in when a child loses his life because he cannot afford a pen and a book di dalam surat tersebut.
Teror dimulai dengan pesan WhatsApp dari sedikitnya enam nomor misterius berkode negara Inggris Raya plus empat empat yang berisi ancaman dan hinaan.
Salah satu pesan berbunyi Agen asing jangan cari panggung jual narasi sampah.
Tiyo juga menerima serangan masif di akun media sosialnya termasuk Facebook X Instagram serta TikTok berupa konten fitnah dan pembunuhan karakter.
Konten tersebut memfitnahnya dengan gambar Awas LGBT di UGM menggunakan fotonya serta gambar AI yang menyatakan Tiyo ini adalah langganan Tiyo ini suka menyewa LC karaoke.
Ibu Tiyo bahkan mendapat pesan yang menuduh anaknya menilep dana kampus.
Ancaman penculikan datang secara berulang antara tanggal sembilan hingga sebelas Februari dua ribu dua puluh enam melalui pesan yang sama.
Pada Rabu sebelas Februari dua ribu dua puluh enam Tiyo mengaku dibuntuti dua pria bertubuh tegap tak dikenal di sebuah kedai yang mengambil foto dirinya dari jarak jauh.
Teror tidak hanya menyasar Tiyo melainkan juga merembet ke keluarga serta puluhan anggota pengurus BEM UGM lainnya.
Tiyo menegaskan tidak akan menunjukkan rasa takut dan tetap teguh menghadapi segala bentuk intimidasi tersebut.
Cahaya itu telah menerangi gulita teror dan bahaya yang saya keluarga dan pengurus BEM UGM alami kita buat setiap teror itu gagal dengan tetap berdiri tegak dan kepala mendongak.
Ia menyatakan sudah melaporkan dan berkomunikasi dengan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan serta pihak universitas untuk penanganan lebih lanjut.
Kronologi teror ini menjadi perhatian luas karena terjadi pasca kritik tajam BEM UGM terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap tidak peka terhadap realitas sosial di daerah.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

