
Kasus Dwi Sasetya-Ningtyas Memanas, Gus Umar Singgung Koruptor, Dede Budyarto: Beda Objek, Diseret-seret Biar Dramatis
Repelita Jakarta - Polemik seputar Dwi Sasetya-Ningtyas alias Tyas penerima beasiswa LPDP yang viral karena pernyataannya di luar negeri semakin memanas setelah muncul tanggapan berseberangan dari tokoh publik.
Kader PKB Umar Hasibuan atau Gus Umar menyatakan bahwa tuntutan pengembalian dana LPDP terhadap Tyas terlalu berlebihan karena yang dilakukan hanyalah salah langkah dan pamer semata.
Gus Umar melalui cuitannya di X pada 24 Februari 2026 mempertanyakan apakah harus sekejam itu meminta pengembalian dana pendidikan yang sudah dipakai untuk studi.
Ia membandingkan kasus ini dengan koruptor yang merugikan negara dalam jumlah fantastis dan menanyakan mengapa mereka serta keluarganya tidak diminta mengembalikan uang secara adil.
Mantan Komisaris PT Pelni Dede Budyarto langsung membalas pernyataan Gus Umar dengan menegaskan bahwa kasus LPDP dan korupsi berada dalam rezim hukum yang berbeda sehingga tidak bisa disamakan begitu saja.
Dede menjelaskan bahwa LPDP merupakan kontrak perdata yang mewajibkan penerima beasiswa memenuhi komitmen kepada negara sedangkan korupsi adalah kejahatan pidana yang diproses melalui pengadilan dan perampasan aset.
Ia menilai perbandingan yang dibuat Gus Umar terkesan dipaksakan karena objek mekanisme serta pasal hukumnya jelas berbeda.
Dede menambahkan bahwa upaya menyamakan kedua kasus hanya untuk menambah kesan dramatis padahal merupakan cocoklogi semata.
Polemik ini juga melibatkan pandangan lebih luas dari Cendekiawan Nahdlatul Ulama Gus Hilmi Firdausi yang melalui cuitannya di X pada 24 Februari 2026 mengajak pemerintah melakukan muhasabah atas fenomena banyak WNI di luar negeri yang ingin berubah status menjadi warga negara asing.
Gus Hilmi mencontohkan keberhasilan Malaysia dalam membangun kebanggaan nasional melalui paspor yang kuat dan menekankan perlunya pembenahan menyeluruh di berbagai sektor.
Ia menyindir bahwa peribahasa lama hujan emas di negeri orang hujan batu di negeri sendiri baik jua di negeri sendiri sudah tidak lagi relevan bagi generasi muda saat ini.
Kontroversi yang awalnya berfokus pada sikap Tyas kini berkembang menjadi diskusi besar tentang komitmen beasiswa kontraktual keadilan penegakan hukum serta daya tarik Indonesia bagi warganya sendiri.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

