
Repelita Jakarta - Pengamat politik dan ekonomi Heru Subagia menyoroti ketidakkonsistenan pemerintah dalam mendukung industri otomotif nasional dengan membandingkan proyek Esemka pada era Jokowi dan Maung di era Prabowo.
Heru menyatakan bahwa kedua proyek tersebut pada akhirnya hanya menjadi pembohongan publik karena tidak pernah benar-benar terealisasi secara masif dan berkelanjutan.
Menurutnya Esemka yang digembar-gemborkan sebagai mobil nasional untuk kebutuhan niaga termasuk pickup nyaris tidak pernah diproduksi dalam jumlah besar meskipun sempat menjadi sorotan.
Ia menilai proyek tersebut hanya gimmick politik yang akhirnya ditinggalkan tanpa dampak nyata bagi industri dalam negeri.
Heru menambahkan bahwa Maung yang dikembangkan dan digunakan Presiden Prabowo juga mengalami nasib serupa karena tidak diberi ruang lisensi atau kerjasama produksi massal untuk memenuhi kebutuhan nasional.
Ia mempertanyakan mengapa kendaraan yang sudah ada dan diproduksi lokal seperti Maung tidak dimanfaatkan untuk pengadaan Koperasi Desa Merah Putih alih-alih mengimpor ribuan unit dari India.
Heru menegaskan bahwa kebijakan impor 105 ribu pickup dan truk dari India bertentangan dengan semangat penguatan industri nasional yang pernah digaungkan pada kedua era pemerintahan.
Menurutnya kedua proyek mobil nasional tersebut hanya menjadi alat pencitraan yang akhirnya mengecewakan karena tidak disertai komitmen produksi dan distribusi yang serius.
Heru menyimpulkan bahwa Esemka dan Maung sama-sama menjadi pembohongan besar bagi publik karena janji besar tidak pernah terwujud sementara dana negara justru dialirkan ke pabrikan asing.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

