Breaking Posts

-->
6/trending/recent

Hot Widget

-->
Type Here to Get Search Results !

Bang Cucun Ungkap Petani Padi Sulit Hidup 10 Tahun Era Jokowi, Harga Gabah Baru Naik di Masa Prabowo

 Pengurus HKTI Sebut Bank Lebih Mudah Biayai Bos Judol Dibanding Biayai  Petani - POLITIK INDONESIA, POLINDO

Repelita Jakarta - Pengurus Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Muhammad Afdal yang akrab disapa Bang Cucun mengungkapkan kondisi sulit yang dihadapi petani padi selama hampir sepuluh tahun terakhir terutama terkait harga gabah akses pembiayaan dan ancaman gagal panen.

Menurutnya selama masa pemerintahan Presiden Joko Widodo harga padi cenderung stagnan meskipun biaya produksi serta upah tenaga kerja terus mengalami kenaikan setiap tahun.

Kenaikan harga gabah baru terasa signifikan di akhir periode kepemimpinan Jokowi setelah petani berulang kali menyuarakan desakan keras kepada pemerintah.

Bang Cucun menilai situasi tersebut membuat kesejahteraan petani sulit meningkat sehingga ia sering meminta pemerintah menghitung secara rinci biaya produksi beserta berbagai risiko pertanian seperti banjir kekeringan dan serangan hama penyakit.

Dari pengalaman pribadinya dalam lima kali masa tanam hanya satu kali yang menghasilkan panen sangat baik dua kali panen rata-rata satu kali kurang memuaskan dan satu kali mengalami kegagalan total.

Perubahan iklim ekstrem dalam beberapa tahun belakangan semakin memperburuk ketidakpastian hasil panen bagi para petani.

Pendapatan rata-rata petani saat ini sangat rendah sehingga “Penghasilan kita cuma Rp400.000 per bulan” ungkapnya.

Dengan penghasilan sebesar itu petani kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari apalagi mengajukan kredit ke lembaga perbankan formal.

Bank sering menganggap petani tidak layak dibiayai karena pendapatan kecil dan risiko usaha yang tinggi sehingga banyak petani beralih ke sumber modal nonformal seperti tengkulak toko pertanian atau pinjaman daring.

Bang Cucun mengaku pernah menggunakan kartu kredit untuk membiayai kegiatan tanam padi yang membuat harga pupuk serta obat-obatan menjadi jauh lebih mahal karena pembayaran ditunda beberapa bulan.

“Pupuk yang harusnya Rp100.000 pasti dijual menjadi Rp150.000 atau bahkan Rp200.000 karena kita hutang” jelasnya.

Ketergantungan pada tengkulak juga berdampak buruk pada harga jual gabah saat panen meskipun pemerintah menetapkan harga Rp6.500 petani yang terikat utang sering terpaksa menjual lebih rendah di kisaran Rp5.000 hingga Rp5.500 per kilogram.

Apabila mengalami gagal panen petani harus meminta perpanjangan utang dengan risiko kerugian yang sangat besar mencapai Rp10 juta hingga Rp20 juta dalam satu musim tanam.

Ia menilai program Kredit Usaha Rakyat belum benar-benar menjangkau petani padi untuk kebutuhan pembiayaan produksi karena lebih banyak digunakan untuk pembelian alat dan mesin pertanian.

Bang Cucun menyoroti bahwa harga beras sebagai komoditas strategis sering dijaga agar tidak naik demi menjaga stabilitas inflasi sehingga kebijakan tersebut kerap mengorbankan kesejahteraan petani.

“Harga hasil panen kita itu tidak boleh naik” ujarnya menggambarkan tekanan yang dialami petani selama bertahun-tahun.

Menurutnya kenaikan harga padi yang benar-benar dirasakan baru terjadi pada masa pemerintahan Presiden Prabowo dengan harga gabah mencapai Rp6.500 per kilogram sesuai tuntutan yang telah lama disuarakan.

“Petani-petani hanya di masa era Presiden Prabowo inilah harga padi itu dinaikkan hingga 6.500” katanya.

Ia berharap ke depan pemerintah tidak hanya menetapkan harga yang lebih adil tetapi juga memperbaiki sistem pembiayaan serta memberikan perlindungan lebih baik terhadap berbagai risiko di sektor pertanian.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

-->

Below Post Ad

-->

Ads Bottom

-->
Copyright © 2023 - Repelita.net | All Right Reserved