Breaking Posts

-->
6/trending/recent

Hot Widget

-->
Type Here to Get Search Results !

Akademisi Nilai Melabeli Kritik Mahasiswa sebagai Ancaman Justru Membahayakan Demokrasi

 

Repelita Jakarta - Pernyataan yang menganggap kritik terhadap program unggulan Presiden Prabowo Subianto sebagai bentuk ancaman menuai reaksi keras dari kalangan akademisi.

Guru Besar Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga Prof Henri Subiakto menilai pandangan semacam itu sangat berbahaya bagi kelangsungan iklim demokrasi di Indonesia.

Henri menyampaikan responsnya terkait kasus Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada Tiyo Ardianto yang disebut sebagai ancaman setelah mengkritik pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis.

Menurut Henri kritik dari mahasiswa lahir dari rasa peduli mendalam terhadap nasib bangsa bukan karena sikap memusuhi pemerintahan atau negara.

Ia menegaskan bahwa melabeli pengkritik pemimpin sebagai ancaman atau antek asing justru menjadikan pelaku pelabelan itu sendiri sebagai pihak yang mengancam demokrasi.

Henri menyatakan hal tersebut melalui cuitannya pada 26 Februari 2026 yang dikutip dari berbagai sumber informasi.

Pelabelan negatif terhadap suara kritis mahasiswa menurutnya mencerminkan kemunduran serius dalam praktik berdemokrasi di tanah air.

Dalam sistem demokrasi yang sehat kritik merupakan instrumen penting untuk mengontrol kekuasaan agar tetap berjalan sesuai kepentingan rakyat.

Henri menyatakan rasa bangganya terhadap keberanian mahasiswa yang tetap menyampaikan pendapat secara terbuka dan berani meski menghadapi tekanan.

Ia memuji sosok Tiyo Ardianto sebagai teladan bagi generasi muda untuk aktif menyuarakan akal sehat secara rasional dan bertanggung jawab.

Henri menilai mahasiswa seperti Tiyo dapat menjadi penggerak atau panutan bagi anak muda lain dalam menunjukkan kepedulian terhadap bangsa.

Sementara itu Tiyo Ardianto mengungkapkan bahwa dirinya mengalami berbagai bentuk teror setelah menyuarakan isu kasus anak berhadapan dengan hukum di Nusa Tenggara Timur.

Teror tersebut berlangsung selama beberapa hari antara tanggal 9 hingga 11 Februari 2026 berupa ancaman melalui pesan singkat dan dugaan penguntitan oleh orang tak dikenal.

Tiyo menerima pesan ancaman penculikan dari nomor tidak dikenal serta mengalami penguntitan pada Rabu 11 Februari 2026 di sebuah kedai.

Dua pria berpostur tegap dan berusia relatif muda terlihat memotret dirinya dari jarak jauh selama beberapa waktu.

Ketika Tiyo mencoba mengejar kedua orang tersebut mereka langsung menghilang dari pandangan.

Menurut Tiyo intimidasi ini kemungkinan dipicu oleh pernyataan kritisnya di berbagai media terkait kasus anak berusia 10 tahun di Nusa Tenggara Timur yang menimbulkan ketersinggungan pihak tertentu.

Hingga kini Tiyo belum melakukan komunikasi langsung dengan pihak kampus maupun aparat penegak hukum mengenai peristiwa tersebut.

Ia menegaskan sikap tegas bahwa dirinya bersama Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada tidak akan gentar atau takut menghadapi intimidasi semacam ini.

Tiyo menyatakan selama masih ada orang-orang berpikiran waras di republik ini maka penguasa yang bertindak zalim tidak akan pernah merasa tenang.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok.


Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

-->

Below Post Ad

-->

Ads Bottom

-->
Copyright © 2023 - Repelita.net | All Right Reserved