Repelita Sukoharjo - Runtuhnya PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex tidak memberikan dampak signifikan terhadap stabilitas keuangan keluarga Lukminto karena mereka mengelola berbagai usaha di sektor lain.
Keluarga asal Surakarta ini dikenal sebagai pelaku bisnis berpengaruh yang aktivitasnya meluas dari tingkat lokal di Jawa Tengah hingga ke pasar internasional.
Perusahaan tekstil Sritex merupakan bisnis inti yang membawa nama keluarga ini ke puncak ketenaran sebagai salah satu produsen garmen utama di tanah air.
Sritex tidak hanya memproduksi kain biasa, melainkan menjadi mitra bagi merek global ternama seperti H&M, Walmart, K-Mart, serta Jones Apparel dalam pembuatan pakaian jadi.
Akan tetapi, akibat kesulitan keuangan yang berlangsung selama empat tahun sejak 2021, Sritex akhirnya dinyatakan pailit dan menghentikan operasi secara permanen pada awal 2025.
Keputusan ini menimbulkan konsekuensi berat bagi ribuan pekerja yang bergantung pada perusahaan tersebut sebagai sumber penghidupan.
Meskipun demikian, bagi keluarga Lukminto, kejatuhan Sritex tidak menjadi pukulan telak lantaran portofolio usaha mereka yang beragam di luar industri tekstil.
HM Lukminto, pendiri grup bisnis ini, lahir pada 1 Juni 1946 dan meninggal dunia pada 5 Februari 2014.
Beliau mendirikan Sritex sebagai perusahaan tekstil raksasa yang kemudian menjadi kebanggaan nasional.
HM Lukminto memiliki lima orang anak yaitu Vonny Imelda, Iwan Setiawan Lukminto, Lenny Imelda, Iwan Kurniawan Lukminto, serta Margaret Imelda.
Setelah kepergiannya, kepemimpinan di Sritex diambil alih oleh Iwan Setiawan Lukminto yang menjabat sebagai direktur utama.
Sebelumnya, lulusan Business Administration dari Johnson & Wales University tersebut pernah menduduki posisi wakil direktur utama sejak 2014.
Pada masa jayanya sekitar tahun 2020, keluarga ini sempat tercatat dalam daftar orang terkaya di Indonesia dengan estimasi kekayaan mencapai US$515 juta atau setara Rp8,384 triliun.
Sayangnya, Sritex mengalami kerugian berkelanjutan yang berujung pada pailit dan penutupan total pada Februari hingga Maret 2025.
Penghentian aktivitas ini memberikan efek besar terhadap karyawan di basis operasional Sukoharjo, Jawa Tengah.
Di luar sektor tekstil, keluarga Lukminto mengembangkan jaringan usaha yang mencakup beberapa bidang strategis.
PT Sriwahana Adityakarta Tbk beroperasi di industri kertas dengan spesialisasi produksi karton untuk kemasan, gulungan kertas, serta bahan pendukung industri lainnya.
Keluarga ini juga memiliki perusahaan di Singapura seperti Golden Legacy Pte Ltd serta Golden Mountain Textile Trading Pte Ltd yang fokus pada perdagangan dan investasi global.
Di bidang perhotelan, melalui PT Wisma Utama Binaloka, mereka mengelola berbagai properti akomodasi dan restoran terkenal di Indonesia.
Beberapa jaringan yang berada di bawah pengelolaan mereka meliputi Diamond, Grand Orchid, @Hom, serta Grand Quality.
Keluarga Lukminto mendirikan Tumurun Private Museum di Surakarta yang menyimpan koleksi seni pribadi dan terbuka untuk masyarakat sebagai upaya pelestarian budaya.
Mereka juga memiliki Gedung Olahraga Sritex di Solo yang sering digunakan untuk event olahraga nasional seperti pertandingan voli, basket, serta Pekan Paralimpiade Nasional XVII pada 2024.
Editor: 91224 R-ID Elok.

