
Repelita Jakarta - Roy Suryo menjadi narasumber dalam acara televisi KompasTV yang membahas isu keaslian ijazah mantan Presiden Joko Widodo dengan menghadirkan tiga pimpinan redaksi senior dari grup media Kompas.
Panelis tersebut terdiri atas Amir Sodikin selaku pemimpin redaksi Kompas.com, Yogi Arief Nugraha sebagai pemimpin redaksi KompasTV, serta Tri Agung Kristanto yang berposisi sebagai Wakil Pemimpin Umum Harian Kompas.
Ketiga pimpinan redaksi ini memiliki pandangan serupa dalam menangani pemberitaan kasus ijazah Joko Widodo dengan tidak memberikan sorotan berlebihan secara berkelanjutan.
Akan tetapi, peran Roy Suryo beserta analisis-analisisnya justru memberikan energi tambahan sehingga isu tersebut tetap bertahan lama di ruang publik.
Amir Sodikin dengan terus terang mengungkapkan kejenuhannya terhadap pembahasan panjang mengenai perkara ini di depan Roy Suryo.
Ia menyampaikan permintaan agar topik tersebut diakhiri meskipun mengakui bahwa kontribusi Roy Suryo membuat kasus ini terus mendapat perhatian.
Keterlibatan Roy Suryo dinilai berhasil mengembalikan nama Joko Widodo ke sorotan utama meskipun masa jabatannya telah berakhir.
Fenomena ini sempat memunculkan dugaan di masyarakat bahwa Roy mungkin memiliki hubungan khusus yang secara tidak langsung menguntungkan Joko Widodo.
Yogi Arief Nugraha menyatakan rasa heran terhadap situasi di mana Joko Widodo tetap menjadi pusat pembicaraan setelah tidak lagi menjabat.
Hal tersebut berbeda dengan pola yang ditunjukkan oleh mantan presiden sebelumnya seperti Susilo Bambang Yudhoyono maupun Megawati Soekarnoputri.
Yogi lebih mengarahkan perhatian pada jalur proses hukum dalam kasus ijazah tersebut.
Ia mempersoalkan alasan mengapa status tersangka yang melekat pada Roy Suryo dan pihak terkait belum juga maju ke tahap penuntutan di pengadilan.
Menurutnya, perkara ini harus mencapai putusan hukum tetap agar memperoleh penyelesaian yang jelas.
Tri Agung Kristanto menjelaskan bahwa Harian Kompas sengaja mempertahankan sikap netral terhadap isu ini.
Walaupun demikian, mereka tetap mengawasi perkembangannya karena dianggap memiliki nilai berita yang cukup tinggi untuk tidak dilewatkan.
Pada awalnya, Tri Agung menduga bahwa Roy Suryo hanya berusaha menjaga agar nama Joko Widodo tetap relevan mengingat kedekatan pribadi mereka.
Namun asumsi itu bergeser setelah Roy mulai membahas ijazah Gibran Rakabuming Raka yang menandakan adanya perbedaan posisi yang tajam.
Roy Suryo selama sesi tersebut tidak memberikan pembelaan yang berlebihan.
Ia lebih memilih menyampaikan penjelasan secara tenang sambil memperlihatkan temuan berdasarkan unggahan dari Dian Sandi Utama yang merupakan anggota PSI.
Para pimpinan redaksi juga menyatakan kebingungannya mengapa penanganan hukum kasus ini memakan waktu lebih panjang dibandingkan perkara sejenis yang menimpa Bambang Tri maupun Gus Nur.
Mereka berpendapat bahwa Roy Suryo memiliki dukungan politik yang solid.
Dukungan tersebut bukan dari tokoh berpengaruh seperti yang pernah disebut Joko Widodo, melainkan berasal dari masyarakat umum serta cakupan media termasuk grup Kompas.
Pandangan ini disampaikan oleh pemerhati politik Erizal dalam analisisnya terhadap acara tersebut.
Editor: 91224 R-ID Elok.

