
Repelita Teheran - Kaum muda dan mahasiswa di Iran semakin aktif bergabung dalam gelombang demonstrasi besar yang melanda berbagai kota di negara tersebut sejak akhir November lalu.
Aksi protes yang dipelopori generasi muda ini menyerupai gerakan serupa yang terjadi di beberapa wilayah Asia, Afrika Selatan, serta Eropa.
Pemicu utama dari unjuk rasa massal tersebut adalah kondisi perekonomian yang semakin sulit ditambah lonjakan harga barang akibat merosotnya nilai mata uang rial karena dampak sanksi Amerika Serikat serta konflik dengan Israel.
Sejak 28 November, kelompok-kelompok pengunjuk rasa yang didominasi kaum muda telah memadati jalan-jalan di kota-kota utama, termasuk ibu kota Teheran.
Mereka menyerukan intervensi cepat pemerintah terhadap pasar valuta asing yang kacau serta penyusunan kebijakan ekonomi yang lebih jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.
Gejolak ekstrem pada harga dan nilai tukar telah menghentikan hampir seluruh transaksi barang impor, membuat baik penjual maupun pembeli kesulitan beroperasi.
Demonstrasi meledak di sekitar sepuluh kampus ternama, antara lain Universitas Teheran, Universitas Teknologi Sharif, serta Universitas Teknologi Isfahan, di samping partisipasi aktif dari pemilik usaha kecil.
Gelombang aksi ini dengan cepat meluas ke berbagai wilayah lain.
Pada Selasa, mahasiswa menggelar unjuk rasa di Teheran, sementara aksi serupa berlangsung di institusi pendidikan serta kawasan lain di Isfahan, Yazd, dan Zanjan.
Para demonstran secara tegas menyerukan penggulingan rezim yang berkuasa.
Slogan-slogan seperti “Kami tidak menginginkan Gaza, maupun Lebanon” bergema di tengah massa.
Mereka mengkritik alokasi dana besar pemerintah untuk mendukung kelompok bersenjata di luar negeri seperti Hamas di Gaza serta Hizbullah di Lebanon, sementara rakyat dalam negeri menghadapi kelaparan.
Di tengah situasi yang semakin tegang, Presiden Masoud Pezeshkian memutuskan memecat gubernur bank sentral serta memerintahkan pejabat tinggi untuk berdialog langsung dengan perwakilan pengunjuk rasa dan pedagang.
Dengan alasan penghematan energi menghadapi musim dingin, pemerintah menutup bank, sekolah, serta kantor-kantor negara di kota-kota besar.
Kantor berita semi-resmi Tasnim melaporkan bahwa tiga personel keamanan mengalami luka dalam insiden tersebut, sementara empat orang penyerang berhasil diamankan.
Dalam pidato di forum bisnis di Teheran pada Rabu, Presiden Masoud Pezeshkian mengindikasikan adanya keterlibatan pihak luar dalam kerusuhan ini.
“Kita berada dalam situasi di mana tekanan eksternal diberikan oleh musuh-musuh negara dan, sayangnya, juga dari dalam negeri. Alih-alih sinergi dan dukungan, beberapa posisi dan tindakan terkadang malah menyebabkan pelemahan dan kerugian,” kata Pezeshkian.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

