Breaking Posts

-->
6/trending/recent

Hot Widget

-->
Type Here to Get Search Results !

Balqis Humaira Nilai Ucapan Firdaus Oiwobo Melemahkan Kepedulian Publik dan Membuka Ruang Aman bagi Aksi Teror

Firdaus Oiwobo Ngamuk di Persidangan, Dikritik Hotman Paris : Kamu Kalah  Fatal! - Editor News

Repelita Jakarta - Balqis Humaira menyampaikan pernyataan terbuka dan lugas mengenai Firdaus Oiwobo yang dikenal sebagai Daus dalam sebuah postingan di media sosial.

Ia menggambarkan Daus sebagai figur yang tampak sederhana namun memiliki dampak merusak bagi komunitas aktivis.

Bukan karena keunggulan kemampuan atau posisi berwenang yang dimilikinya.

Melainkan melalui ucapannya yang mampu menghentikan kepedulian masyarakat terhadap kasus-kasus teror.

Pernyataan Daus yang mengklasifikasikan teror sebagai pengaturan belaka atau pencarian perhatian dianggap bukan hanya kritik biasa.

Pengaruh tersebut beroperasi seperti zat berbahaya yang meresap secara bertahap tanpa tanda mencolok pada awalnya.

Dampak baru terasa jelas ketika situasi sudah mencapai tahap yang tidak terkendali lagi.

Balqis memberikan contoh situasi di mana individu mengalami teror seperti rumah menjadi target lemparan, kendaraan rusak, serta keluarga dalam kondisi takut.

Respons standar dari masyarakat seharusnya adalah rasa prihatin yang mendalam serta desakan untuk perlindungan dan penyelidikan.

Namun ketika muncul komentar seperti yang dibuat Daus yang mempertanyakan keaslian.

Kepedulian kolektif langsung lenyap.

Masyarakat mulai menganggap kejadian itu sebagai sandiwara atau sikap mencari simpati semata.

Padahal masalah teror berkaitan erat dengan ancaman terhadap keselamatan yang tidak boleh diremehkan.

Ancaman pertama dari pendekatan ini adalah menciptakan ketidakpekaan terhadap narasi teror di kalangan publik.

Ketika masyarakat sudah tidak lagi sensitif, maka peristiwa mendatang seperti pembakaran rumah, penyerangan pribadi, atau ancaman terhadap anak hanya mendapat respons skeptis.

Ini dianggap sebagai taktik cerdik yang menghapus kewaspadaan instingtif.

Ancaman kedua yang lebih mengerikan adalah memberikan isyarat aman bagi pelaku teror.

Pelaku merasa lebih bebas bergerak karena menyadari bahwa aksinya dapat dibantah sebagai rekayasa.

Keberanian mereka bertambah karena publik lebih fokus pada perdebatan validitas daripada kemarahan terhadap pelaku.

Daus tidak perlu mengarahkan siapa pun secara langsung.

Narasi yang diciptakan sudah cukup untuk membentuk kondisi yang menguntungkan pihak berniat buruk.

Ancaman ketiga adalah menyebabkan korban potensial memilih untuk tidak bersuara.

Penyebaran keraguan secara luas membuat individu yang sedang mengalami intimidasi ragu untuk melapor karena takut dicap sebagai pencari perhatian.

Mereka akhirnya menahan diri dan menunggu hingga keadaan semakin membahayakan.

Keyakinan masyarakat sering baru muncul setelah ada korban nyata yang mengalami kerugian serius.

Pendekatan ini secara tidak langsung menyiratkan bahwa bukti baru diakui setelah ada korban jiwa.

Ancaman keempat adalah memicu kecurigaan antar sesama aktivis.

Ketika ada laporan teror dari satu pihak, anggota lain mulai mempertanyakan kebenarannya.

Kekompakan yang menjadi kekuatan utama aktivis mengalami keretakan secara bertahap tanpa intervensi eksternal yang kasar.

Daus secara sadar atau tidak menjadi instrumen pemecah belah dalam kelompok tersebut.

Ancaman kelima adalah mengalihkan sorotan publik dari esensi permasalahan.

Seharusnya diskusi tertuju pada identitas pelaku, motif, serta pihak yang mendapat manfaat.

Namun karena narasi yang dibangun, pembahasan malah terfokus pada apakah kejadian itu autentik atau hanya untuk mencari dukungan.

Pelaku dapat mengamati situasi dengan santai karena masyarakat lebih sibuk menyerang korban daripada menuntut pelaku.

Balqis menegaskan bahwa inti persoalan bukan pada hak untuk meragukan suatu peristiwa.

Setiap orang berhak memiliki skeptisisme.

Yang menjadi masalah adalah gaya penyampaian yang terkesan enteng dan tanpa rasa empati.

Sikap demikian tidak dapat dianggap sebagai posisi netral melainkan mengandung risiko tinggi.

Dalam berbagai catatan sejarah, pola kekerasan sering berawal dari pengabaian terhadap keluhan korban yang dianggap berlebihan.

Balqis menyampaikan pesan penting bahwa Daus bukan pelaku kekerasan secara fisik.

Ia bukan eksekutor langsung.

Melainkan figur yang membuat pelaku merasa aman melalui ucapan yang meremehkan.

Bagi aktivis, lawan tidak selalu muncul dengan bentuk kekerasan terbuka.

Kadang hanya berupa kalimat biasa yang menyebabkan kepedulian publik memudar.

Aksi teror jarang langsung berskala besar pada permulaan.

Biasanya diawali dengan tahap uji coba seperti ancaman kecil atau intimidasi ringan.

Jika respons masyarakat masih kuat, pelaku cenderung berhenti.

Sebaliknya, jika publik merespons dengan ejekan atau tuduhan pengaturan, pelaku akan meningkatkan tindakan.

Individu seperti Daus dengan komentarnya yang dianggap ringan turut serta dalam pengujian respons tersebut.

Inilah yang membuatnya dianggap mengancam.

Bukan karena kekuatan pribadi.

Melainkan kemampuan menjadikan perbuatan salah sebagai hal yang terlihat wajar.

Di setiap masyarakat, ketika tindakan jahat dipersepsikan sebagai sesuatu yang lumrah, korban hanya menunggu waktu untuk menjadi target berikutnya.

Editor: 91224 R-ID Elok.

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

-->

Below Post Ad

-->

Ads Bottom

-->
Copyright © 2023 - Repelita.net | All Right Reserved