
Repelita Jakarta - Dugaan aksi teror dan intimidasi terhadap pegiat media sosial sekaligus DJ Ramond Dony Adam atau DJ Donny kembali memicu perdebatan sengit di kalangan masyarakat.
Juru Bicara Partai Solidaritas Indonesia Dian Sandi Utama turut memberikan tanggapan melalui akun X pribadinya.
Ia merespons cuitan dari pengguna @tekarok007 yang mempertanyakan adanya kejanggalan dalam kasus teror yang menimpa DJ Donny.
Dian mengimbau agar publik tidak tergesa-gesa menyimpulkan sesuatu.
Jangan seperti baru pertama kali kena hoax beginian Bang. Ingat kasus Ratna Sarumpaet, tulis Dian melalui akun @DianSandiU pada 31 Desember 2025.
Pernyataan itu menanggapi unggahan @tekarok007 yang mengaku telah menelusuri akun Instagram DJ Donny untuk mencari petunjuk.
Dalam postingannya, akun tersebut menyatakan menemukan kesamaan tulisan tangan DJ Donny dengan catatan ancaman yang diterima.
Karena lagi rame isu terror kepada DJ Donny, iseng-iseng chek IG nya dan menemukan tulisan tangannya si Donny. Tapi anehnya kok tulisannya hampir mirip dengan tulisan sang peneror?, demikian isi cuitan tersebut.
Pengguna itu juga mengundang ahli grafologi untuk ikut menganalisis kemiripan tersebut.
Beberapa huruf yang disebut mirip antara lain Y, N, G, J, D, K, A, dan E.
Unggahan tersebut dilengkapi beberapa gambar perbandingan antara tulisan tangan DJ Donny dan kertas ancaman yang berisi pesan peringatan keras.
Kasus teror yang dialami DJ Donny serta Sherly Annavita belakangan ini mengingatkan kembali pada peristiwa hoaks penganiayaan yang melibatkan Ratna Sarumpaet pada tahun 2018.
Saat itu, Ratna mengklaim menjadi korban pemukulan oleh orang tak dikenal di Bandung sehingga wajahnya tampak memar.
Narasi tersebut langsung mendapat simpati luas dari masyarakat dan dukungan dari berbagai tokoh nasional yang menganggapnya sebagai kekerasan bermotif politik.
Namun kemudian terungkap bahwa lebam di wajahnya berasal dari prosedur bedah plastik, bukan akibat penganiayaan.
Kebohongan itu akhirnya terbongkar dan Ratna Sarumpaet diproses hukum karena menyebarkan berita palsu yang mengakibatkan kegaduhan sosial.
Setelah menjauh dari publikasi, Ratna akhirnya mengakui perbuatannya yang dilatarbelakangi tekanan emosional dan rasa malu.
Peristiwa tersebut menjadi contoh nyata dampak buruk dari penyebaran informasi tidak benar.
Kini, kemunculan kembali dugaan teror terhadap DJ Donny dan Sherly Annavita yang mengaku mendapat ancaman setelah aktif mengkritik isu publik seperti bencana, utang negara, dan lingkungan, membuat bayangan kasus Ratna Sarumpaet kembali diangkat.
Meskipun demikian, kondisi yang dihadapi kedua kreator konten tersebut belum dapat langsung disamakan dengan peristiwa hoaks Ratna Sarumpaet.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok

