Curangnya pemungutan suara referendum Turki yang menangkan Erdogan

516

Kemenangan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada referendum Turki menimbulkan pro dan kontra. Menurut beberapa pengamat, sebanyak 2,5 juta suara kemungkinan besar telah dimanipulasi.

Dewan Eropa yang memantau proses pengambilan suara referendum mengklaim ini merupakan suatu kontes tak setara karena suara untuk “ya” mendominasi cakupan kampanye. Tak hanya itu, kasus penangkapan wartawan dan penutupan media terhadap proses jalannya referendum seolah membungkam kebenaran.

Salah satu anggota kelompok tersebut bernama Alev Korun mengatakan para pengawas telah dicegah tempat pemungutan suara di sebagian kota Kurdi Diyarbakir. Bahkan Korun menyebut di menit-menit terakhir pengumuman keputusan dari otoritas pemilu Turki ada amplop suara tanpa stempel yang ikut dihitung.

Dalam sebuah video yang diunggah ke media sosial, Korun juga menyampaikan keprihatinan karena banyak orang yang melakukan pemungutan suara lebih dari satu kali.

“Faktanya adalah seharusnya hukum hanya membolehkan amplop suara resmi. Tetapi otoritas pemilu malah mengeluarkan amplop suara tanpa stempel resmi. Ada kecurigaan sebanyak 2,5 juta suara telah dimanipulasi,” kata Korun, seperti dilansir dari laman Sky News, Selasa (18/4).

“Keluhan ini seharusnya disikapi secara serius oleh mereka. Dan bagaimanapun caranya, mereka harus mengembalikan hasil suara itu,” tambahnya.

Masyarakat oposisi Partai Demokrat yang pro-Kurdi juga membenarkan adanya kecurangan demikian. Mereka menyampaikan keluhan tentang surat suara yang tidak dicap hingga mempengaruhi tiga juta pemilih.

Meski kritik tersebut terus disampaikan berbagai pihak, namun Erdogan tidak menanggapinya. Dia juga membantah kritik yang diajukan pemantau internasional dari Organisasi Keamanan dan Kerja Sama Eropa (OSCE) dengan mengatakan bahwa mereka seharusnya “tahu tempat”.

Sementara itu Perdana Menteri Turki Binali Yildirim mengatakan rumor penyimpangan perolehan suara merupakan upaya sia-sia untuk meragukan hasil yang sudah keluar.

“Keinginan rakyat telah tercermin melalui kotak suara dan perdebatan ini harus berakhir. Semua orang harus menghormati hasil akhirnya, terutama bagi mereka yang merupakan oposisi,” kata Yildirim di hadapan anggota parlemen.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Inggris menyatakan keprihatinan atas temuan OSCE terkait manipulasi suara dalam referendum Turki ini dan meminta otoritas Turki untuk mengusut hal ini. | MERDEKA


*Repelita Online merupakan wadah untuk menyalurkan ide/gagasan/opini/aspirasi warga. Setiap opini/berita yang terbit di Repelita Online yang merupakan kiriman dari penulis merupakan tanggung jawab dari Penulis.
Join @Repelita Channel on Telegram

comments

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY